Aliran lukisan Daniel disebut Neo Pop Art. Tidak hanya dua dimensi, ada yang empat dimensi.

Di pembukaan Jumat sore lalu Daniel mengenakan kacamata seperti Batman. Banyak pelukis Surabaya hadir. Konsul Tiongkok di Surabaya Ye Su, ikut memberi sambutan. Management Advisor Wisma Jerman Mike Neuber juga hadir.

Setelah puas melihat lukisan ini baiknya Anda minta petugas untuk mematikan lampu. Lalu lihatlah lukisan Daniel di kegelapan. Lukisan itu lebih indah. Ada pantulan warna-warninya. Cat yang dipakai melukis memang khusus: jenis fluorescent molotow.

Warna yang bisa terlihat di kegelapan itu datang dari bebatuan tambang yang disebut fluorescent yang dicampurkan ke dalam cat. Bebatuan tambang itu bisa menyimpan cahaya yang bisa muncul di kegelapan. Tentu tetap harus ada bantuan sedikit cahaya dari jauh, pun bila cahayanya hanya sedikit –apalagi kalau cahaya itu dari UV.

Orang awam menyebut warna seperti itu warna “neon” meski sebutan itu sebenarnya kurang pas. Bagi yang hobi mancing warna itu juga sudah familiar: ditaruh di dekat umpan. Polisi juga biasa pakai rompi dengan warna fluorescent.

Bahwa lukisan Daniel sempat disangka karya anak-anak itu karena pop art-nya itu. Warna-warninya mencolok. Pop art lahir dari pengakuan atas karya-karya komersial dalam bentuk iklan, anime, komik, dan sebangsanya.

Karya itu lantas menjadi inspirasi bagi seni lukis dan pelukis mengangkatnya menjadi karya seni. Aliran pop art kali pertama muncul di Jepang dan negara Asia timur lainnya.

 

Kian lama unsur seninya kian dominan sehingga rasa komersialnya lenyap: jadilah neo pop art seperti yang dilakukan Daniel. Datanglah sendiri ke Disway di Jalan Walikota Mustajab 76, Surabaya.

Meski mulai dibuka kemarin, hari ini masih buka –sampai dua minggu mendatang (19 Juni 2026).

Saya pun ingin tahu lebih banyak siapa si nDugHal. Saya ajak Daniel makan malam. Perjalanan ke-ndugal-annya pun ia ceritakan semua. Termasuk dari negara mana saja mantan-mantan istrinya.

“Kok orang-orang bule itu bisa jatuh cinta dengan pelukis dari Indonesia ya?” tanya saya bernada iri.