finnews.id – Maverick Vinales mengaku terkejut dengan performanya yang belum kunjung kompetitif di MotoGP Hungaria 2026. Pembalap Tech3 KTM itu merasa kondisi bahunya terus membaik setelah cedera yang dialaminya tahun lalu, namun kecepatan yang ia harapkan masih belum muncul di atas lintasan.
Akhir pekan di Balaton Park menjadi balapan ketiga Vinales sejak kembali beraksi setelah absen panjang akibat cedera bahu terkilir yang dialaminya pada MotoGP Jerman musim lalu. Meski sudah menjalani beberapa pekan pemulihan dan kembali turun balapan sejak MotoGP Catalunya, hasil yang diraih masih jauh dari ekspektasi.
Pada sesi kualifikasi MotoGP Hungaria, Vinales hanya mampu finis di posisi kedua dari belakang. Situasi itu berlanjut saat Sprint Race, ketika ia kesulitan menembus barisan depan dan kembali finis di luar persaingan utama.
Vinales Mengira Bisa Lebih Cepat
Usai Sprint Race, Vinales mengakui dirinya berharap bisa langsung tampil lebih kompetitif setelah kembali ke lintasan.
“Saya terkejut karena saya pikir memiliki kecepatan yang jauh lebih baik,” ujar Vinales.
Menurut mantan pembalap Yamaha dan Aprilia tersebut, masalah utamanya saat ini bukan lagi rasa sakit pada bahu, melainkan ketidakmampuannya memahami karakter KTM RC16 secara maksimal.
Ia merasa harus mengendarai motor selalu di batas kemampuan tertinggi, sesuatu yang saat ini belum mampu ia lakukan secara konsisten.
Vinales menilai dirinya masih membutuhkan waktu dan kesabaran untuk memahami cara terbaik memaksimalkan performa motor KTM.
Bahu Semakin Membaik
Meski belum pulih seratus persen, Vinales menegaskan kondisi fisiknya mengalami perkembangan positif dibanding beberapa balapan sebelumnya.
Ia mengaku kekuatan pada bahu memang masih perlu ditingkatkan, tetapi kondisinya jauh lebih baik dibanding saat tampil di Mugello.
Menurut Vinales, keterbatasan terbesar saat ini justru datang dari kurangnya rasa percaya diri terhadap motor. Ia belum menemukan area tertentu yang bisa dijadikan kekuatan utama untuk mencatat waktu putaran kompetitif.
Saat mencoba mengerem lebih lambat, ia sering kehilangan titik tikung. Namun ketika berusaha mempertahankan kecepatan di tikungan, motor justru tidak memberikan respons yang diharapkannya.
Situasi tersebut membuatnya kesulitan membangun ritme sepanjang putaran.