finnews.id – Putus cinta sering menjadi pengalaman emosional yang tidak mudah dilalui. Perasaan sedih, kecewa, marah, kehilangan, hingga kesepian dapat muncul secara bersamaan dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Dalam psikologi, patah hati bukan sekadar masalah perasaan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi mental dan fisik seseorang.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa putusnya hubungan romantis dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan saat seseorang mengalami rasa sakit fisik. Karena itu, tidak mengherankan jika patah hati terasa sangat menyakitkan. Meski demikian, psikologi juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk pulih dan bangkit kembali dengan cara yang sehat.
Mengakui dan Menerima Perasaan yang Muncul
Salah satu langkah pertama yang dianjurkan psikolog adalah mengakui emosi yang dirasakan. Banyak orang berusaha menekan kesedihan atau berpura-pura baik-baik saja setelah putus cinta. Padahal, menolak emosi justru dapat memperpanjang proses pemulihan.
Perasaan sedih, marah, kecewa, atau kehilangan adalah respons yang normal. Dengan menerima bahwa emosi tersebut memang ada, seseorang dapat mulai memproses pengalaman tersebut secara lebih sehat.
Psikolog Amerika, Susan David, pernah mengatakan bahwa “emosi yang diakui akan lebih mudah dikelola daripada emosi yang dihindari.”
Hindari Mengisolasi Diri Terlalu Lama
Saat patah hati, sebagian orang memilih menjauh dari lingkungan sosial. Meskipun waktu untuk menyendiri kadang dibutuhkan, mengisolasi diri terlalu lama dapat meningkatkan risiko stres dan perasaan kesepian.
Berinteraksi dengan keluarga, sahabat, atau orang-orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi beban emosional. Dukungan sosial merupakan salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan pemulihan psikologis yang lebih baik setelah mengalami kehilangan atau kekecewaan.
Berbicara dengan orang yang tepat juga dapat membantu seseorang melihat situasi dari sudut pandang yang lebih objektif.
Mengurangi Paparan terhadap Mantan
Dalam era media sosial, proses move on sering kali menjadi lebih sulit. Melihat unggahan, foto, atau aktivitas mantan secara terus-menerus dapat memicu kembali emosi yang belum pulih.