Di dekat Nanning juga ada kampung besar orang Tiongok yang masih bisa berbahasa Jawa dan Sunda. Mereka adalah orang kelahiran Indonesia yang akibat keharusan pilih jadi WNI atau WNT mereka pilih kembali ke Tiongkok. Itu tahun 1963-an. Tidak lama setelah itu terjadi revolusi besar di Tiongkok. Lalu juga terjadi pergolakan politik besar di Indonesia: Gestapu/PKI.
Sebagian sudah dijemput kapal besar menuju Tiongkok. Sebagian lagi sudah siap meninggalkan Indonesia: rumah dan aset sudah telanjur dijual. Tapi kapal jemputan berikutnya tidak jadi datang.
Mereka yang sudah kembali ke Tiongkok nasibnya kurang baik. Tak lama setelah mereka tiba revolusi meletus. Tiongkok sedang di puncak kemiskinan. Saya pernah mendengar cerita mereka secara langsung: sangat menderita. Lalu setelah Tiongkok maju, mereka mulai hidup sejahtera.
Yang masih tertinggal di Indonesia pun bernasib kurang baik. Jadi korban politik. Setelah zaman reformasi barulah nasib mereka membaik.
Warga kampung itu banyak yang masih bisa masak rawon atau karedok. Lalu ada yang tetap ingin latihan angklung. Randy mengajar mereka main angklung di kampus Guangxi Arts University.
Kampus Tiongkok yang pertama mendatangkan gamelan adalah Shanghai Concervatory of Music. Kemudian menyebar ke beberapa universitas seni ternama: China Concervatory of Music, China Arts University, dan beberapa universitas seni lainnya.
Gamelan tersebut, kata Randy, diperkenalkan bukan hanya sebagai seni pertunjukan tetapi juga menjadi bahan keilmuan tentang musik khas Nusantara. Itu karena secara nada maupun laras (skala nada) berbeda dengan musik barat dan musik Tiongkok. Akhirnya gamelan dipelajari juga sebagai teori ethnomusikologi.
Laras slendro/salendro, pelog dan degung hanya dimiliki oleh musik karawitan dan itu menjadi salah satu daya tarik bagi peneliti musik.
Kini Randy sudah 10 tahun di Guangxi. Ia belum tahu kapan pulang secara tetap. Sebelum Covid istri ikut di Guangxi. Kini ditinggal di Bandung.
Saya tidak bisa ngobrol lama dengan Randy. “Ada jadwal mengajar,” katanya. Hanya di Xinjiang provinsi Xinjiang yang di hari raya Iduladha ini libur lokal –empat hari. adalah satu dari empat provinsi di Tiongkok yang mayoritas penduduknya Muslim.