- Perut terasa perih
- Dada panas
- Mual
- Kembung
- Sering bersendawa
Gangguan Pencernaan
Tubuh yang terbiasa mengonsumsi makanan ringan sehari-hari bisa “kaget” saat menerima asupan protein dan lemak dalam jumlah besar sekaligus.
Akibatnya, muncul berbagai masalah pencernaan seperti:
- Diare
- Sembelit
- Perut begah
- Kembung
- Mual
Kurangnya konsumsi sayur dan buah juga menjadi faktor utama gangguan ini.
Gula Darah Naik
Penderita diabetes perlu lebih berhati-hati selama Idul Adha. Meski daging tidak mengandung gula tinggi, pola makan berlebihan dan konsumsi makanan berlemak dapat memengaruhi sensitivitas insulin.
Selain itu, makanan pendamping seperti minuman manis dan kue juga bisa membuat kadar gula darah melonjak.
Obesitas
Berat badan sering naik setelah Idul Adha karena kalori yang masuk jauh lebih besar dibanding yang dibakar tubuh.
Sate, gulai, dan makanan bersantan umumnya memiliki kandungan kalori dan lemak tinggi. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol, risiko obesitas meningkat.
Nyeri Sendi
Selain asam urat, banyak orang mengeluhkan nyeri sendi akibat peradangan yang dipicu pola makan tidak sehat. Berat badan yang bertambah dalam waktu singkat juga memberi tekanan lebih pada sendi tubuh.
Radang Tenggorokan
Kurang minum air putih dan terlalu banyak makan makanan berminyak dapat membuat tenggorokan terasa sakit. Kondisi ini sering ditandai dengan:
- Tenggorokan kering
- Nyeri saat menelan
- Batuk ringan
- Suara serak
Susah BAB
Kurangnya serat saat terlalu fokus makan daging sering membuat sistem pencernaan melambat. Akibatnya, banyak orang mengalami sembelit setelah Idul Adha.
Agar kondisi ini tidak terjadi, tubuh tetap membutuhkan sayur, buah, dan asupan cairan yang cukup.
Migrain dan Sakit Kepala
Konsumsi makanan tinggi lemak, kurang tidur, dehidrasi, dan tekanan darah yang naik dapat memicu sakit kepala selama momen Idul Adha.
Pada beberapa orang, migrain juga bisa dipicu makanan tertentu yang dikonsumsi berlebihan.
Penyakit Jantung
Bagi penderita penyakit jantung, konsumsi makanan tinggi kolesterol dan lemak jenuh perlu dibatasi. Pola makan yang tidak dijaga dapat memperberat kerja jantung dan meningkatkan risiko komplikasi.
Organisasi kesehatan dunia WHO mengingatkan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh dan rendah serat menjadi salah satu faktor utama penyakit kardiovaskular.