Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim panen pala. Setahun pala bisa dipanen tiga kali: dua kali panen raya, satu kali panen tidak terlalu raya. Bulan ini adalah panen yang tidak terlalu raya.
Banyak pohon pala muda di sekitar saya: umur 15-an tahun. Berarti peremajaan pala terus terjadi. Harga pala yang tetap baik membuat orang semangat menanam pala.
“Boleh dikata jumlah pohon pala terus bertambah,” ujar Burhan. Syukurlah tidak ada ancaman kepunahan –sampai kelak kerakusan investor datang ke Banda membuat ”pesta babi” di sini.
Burhan juga suku Buton. Sudah generasi ketiga di Rhun. Setelah tamat SD dan SMP di Rhun ia masuk madrasah aliyah di pulau Seram –ikut keluarga yang bekerja di sana. Lalu ke Ambon kuliah di IAIN.
Sebagai pegawai negeri Kementerian Agama, Burhan tidak hanya punya kebun pala. Rumahnya dijadikan guest house: empat kamar. Ia tinggal bersama istri di kamar bagian belakang. Dua anaknya sekolah di pulau lain.
Di Rhun, keperluan harian penduduknya didapat dari mencari ikan atau jadi pegawai seperti Burhan.
“Hasil pala disimpan untuk bangun rumah atau biayai anak sekolah. Juga untuk naik haji,” ujar Burhan.
Burhan dan istri sudah mendaftar haji. Sudah antre sembilan tahun. Masih belum tahu harus menunggu berapa tahun lagi.
Bulan depan saya akan ke Manhattan. Sekalian nonton piala dunia. Di sana hati saya pasti ingat Rhun: apakah Manhattan bisa seperti itu kalau tetap dijajah Belanda sampai tahun 1945. (Dahlan Iskan)