Nama lengkapnya dulu: 卢比奥 (Lú bǐ ào). Namanya sekarang menjadi: 鲁比奥 (Lǔ bǐ ào).
Maka di visa yang dikeluarkan Tiongkok untuk kedatangan Marco Rubio sekarang ini bukan nama yang sama dengan yang dulu diberi sanksi. Dengan demikian Marco Rubio bisa masuk Tiongkok tanpa Tiongkok harus mencabut sanksi. Siapa tahu kelak Tiongkok perlu melarangnya lagi.
Tampaknya larangan baru di masa depan tidak perlu lagi. Rubio tidak keras lagi soal Hong Kong dan Jimmy Lai.
Waktu keras dulu statusnya adalah anggota DPR –ia perlu menang di dapilnya. Sekarang ia menteri luar negeri –yang penting masih bisa memenangkan hati Trump. Maka ketika kali ini Rubio ditanya soal Jimmy Lai ia hanya mengatakan “urusan Hongkong itu urusan dalam negeri Tiongkok”.
Beres. Rubio pun telah menjadi cerita yang menarik –mengalahkan cerita soal kunjungan Trump itu sendiri.
Bahkan banyaknya CEO perusahaan kelas dunia dari Amerika yang ikut Trump seperti tidak mendapat porsi sorotan. Padahal dalam rombongan itu ada Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari NVIDIA, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Kelly Ortberg dari Boeing, Jane Fraser dari Citigroup, Larry Culp dari GE Aerospace, David Solomon dari Goldman Sachs, Cristiano Amon dari Qualcomm, Sanjay Mehrotra dari Micron Technology, Michael Miebach dari Mastercard, Ryan McInerney dari Visa, Brian Sikes dari Cargill, dan Jacob Thaysen dari Illumina.
Mereka berkepentingan semua dengan pasar Tiongkok yang sangat besar. Mereka pasti seperti Anda, ingin damai. Agar bisnis bisa jalan. Tapi mereka juga bisa terkena jebakan Thucydides bila Trump hanya mengandalkan gaya tinjunya Mike Tyson. (Dahlan Iskan)