Menurut laporan Reuters, sebagian besar transaksi tersebut melibatkan short position atau spekulasi penurunan harga minyak di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME).
Aktivitas perdagangan itu muncul sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan, gencatan senjata, atau perubahan kebijakan terhadap Iran yang kemudian memengaruhi pasar minyak global.
Pasar Energi Diprediksi Masih Bergejolak
Pelaku pasar kini menunggu arah terbaru hubungan Amerika Serikat dan Iran sambil memantau keamanan Selat Hormuz.
Jika konflik kembali membesar, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi karena ancaman gangguan pasokan global semakin besar.
Namun, jika proses damai benar-benar berjalan, pasar energi bisa kembali mengalami tekanan akibat berkurangnya premi risiko geopolitik.
Saat ini investor memilih tetap waspada karena pasar minyak bergerak sangat cepat mengikuti perkembangan politik dan militer di Timur Tengah. (*)