Home Market Harga Minyak Terguncang! Trump Janji Buka Selat Hormuz, Brent & WTI Masih Bertahan di Atas USD100
Market

Harga Minyak Terguncang! Trump Janji Buka Selat Hormuz, Brent & WTI Masih Bertahan di Atas USD100

Bagikan
Harga minyak turun tipis usai Trump janji buka Selat Hormuz, namun Brent dan WTI masih bertahan di atas USD100 per barel.
Ilustrasi sumur minyak - Dok. ESDM -
Bagikan

finnews.id – Harga minyak dunia kembali bergerak dinamis pada awal pekan. Senin pagi, pasar energi mencatat pelemahan tipis setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal rencana membuka akses kapal di Selat Hormuz. Meski begitu, harga minyak belum jatuh dalam karena konflik dengan Iran masih membayangi.

Pernyataan Trump Picu Reaksi Pasar

Donald Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan membantu kapal-kapal yang terjebak di jalur strategis Selat Hormuz. Pernyataan ini ia unggah melalui platform Truth Social pada Minggu.

Dalam pesannya, Trump menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan menjaga kelancaran aktivitas bisnis global. Ia juga menyebut Amerika telah memberi tahu sejumlah negara terkait rencana pengawalan kapal agar dapat keluar dengan aman dari perairan terbatas.

Langkah ini langsung memicu respons pasar. Pelaku pasar melihat potensi pelonggaran distribusi energi, meski belum sepenuhnya yakin kondisi akan segera stabil.

Harga Minyak Turun Tipis, Tapi Tetap Tinggi

Merespons sentimen tersebut, harga minyak mentah berjangka mengalami penurunan ringan. Minyak Brent yang menjadi acuan global turun 64 sen atau sekitar 0,59% ke level USD107,53 per barel pada pukul 06.08 WIB.

Sebelumnya, Brent sudah melemah cukup dalam sebesar USD2,23 pada penutupan perdagangan Jumat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut turun 84 sen atau 0,82% ke posisi USD101,10 per barel, setelah sebelumnya anjlok USD3,13.

Walau turun, harga minyak tetap bertahan di atas level psikologis USD100 per barel. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan pasar masih kuat dan belum mereda.

Konflik AS-Iran Jadi Penahan Penurunan

Salah satu faktor utama yang menahan penurunan harga minyak adalah belum adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Hingga saat ini, negosiasi yang berlangsung selama akhir pekan belum menghasilkan titik terang.

Analis menyebut perundingan berjalan stagnan karena kedua pihak tetap bertahan pada posisi masing-masing. Tidak ada kompromi yang cukup untuk mendorong kesepakatan.

Bagikan
Artikel Terkait
Jadwal lengkap RUPS emiten 4–8 Mei 2026, dari pembagian dividen hingga aksi korporasi yang berpotensi menggerakkan saham.
Market

Jadwal RUPS Emiten 4–8 Mei 2026: Deretan Agenda Penting, dari Bagi Dividen hingga Perubahan Direksi

finnews.id – Pekan ini menjadi momen krusial bagi pelaku pasar modal. Sejumlah...

Market

Daftar Terbaru! 15 Perusahaan Siap IPO di BEI 2026, Ini Sektor Favorit Investor

finnews.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 15 perusahaan masuk dalam...

Laba ADRO kuartal I 2026 turun akibat penjualan melemah, namun prospek tetap menarik dengan potensi bisnis aluminium.
Market

Laba ADRO Turun di Awal 2026, Volume Penjualan Jadi Biang Kerok! Prospek Masih Menarik?

finnews.id – Kinerja PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) pada kuartal I...

Gerbang Tol Cikampek Utama atau Cikatama (jasamarga)
Market

99 Ribu Kendaraan Padati Tol Cikampek Saat Long Weekend May Day 2026

finnews.id – Libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional...