Home Market Harga Minyak Dunia Meledak Hampir 3 Persen, Krisis Selat Hormuz Bikin Pasokan Global Terancam
Market

Harga Minyak Dunia Meledak Hampir 3 Persen, Krisis Selat Hormuz Bikin Pasokan Global Terancam

Bagikan
Harga minyak dunia melonjak hampir 3 persen dipicu krisis Selat Hormuz, ancaman pasokan global, dan konflik AS-Iran yang belum mereda.
Kapal tanker pengangkut minyak - Dok Pertamina
Bagikan

finnews.id – Lonjakan harga minyak dunia kembali memicu kekhawatiran pasar global. Harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kompak melesat pada perdagangan terbaru setelah krisis Selat Hormuz memperbesar ancaman gangguan distribusi energi internasional.

Kenaikan ini bukan sekadar reaksi jangka pendek. Pasar kini mulai menghitung risiko pasokan berkepanjangan, terutama setelah jalur pelayaran paling strategis di dunia itu mengalami hambatan serius akibat konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Brent Tembus USD111, Harga Minyak Naik Tujuh Hari Beruntun

Minyak mentah Brent kontrak Juni ditutup melonjak USD3,03 atau 2,8 persen ke level USD111,26 per barel. Ini menjadi penguatan tujuh hari berturut-turut dan menegaskan tekanan bullish masih mendominasi pasar energi global.

Sementara itu, minyak mentah WTI untuk pengiriman Juni melesat lebih tinggi, naik USD3,56 atau 3,7 persen menjadi USD99,93 per barel. Bahkan, harga sempat menembus psikologis USD100 per barel, level tertinggi sejak pertengahan April.

Reli harga tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap terganggunya pasokan minyak global setelah Selat Hormuz, jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia, menghadapi tekanan serius.

Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama, Distribusi Minyak Dunia Tersendat

Penutupan efektif jalur Selat Hormuz membuat pasar melihat ancaman pasokan jauh lebih serius dibanding faktor fundamental biasa. Bahkan keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC+ yang sempat diperkirakan menekan harga, justru gagal mengubah sentimen pasar.

Dalam kondisi normal, keluarnya salah satu produsen besar dari OPEC+ berpotensi meningkatkan suplai. Namun pasar menilai tambahan produksi tidak banyak berarti bila distribusi menuju pasar global tetap tersumbat.

Analis menyoroti potensi tambahan produksi 1 juta hingga 1,5 juta barel per hari dari UEA belum tentu bisa mengalir ke konsumen karena hambatan logistik di jalur utama pengiriman energi.

Situasi ini membuat pelaku pasar mulai bersiap menghadapi skenario harga energi yang lebih tinggi dalam waktu lebih panjang.

Konflik AS-Iran Bikin Risiko Pasokan Kian Membesar

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memperkeruh prospek pasokan minyak. Kebuntuan negosiasi disebut memperpanjang konflik, sementara arus pelayaran di Teluk tetap terganggu.

Bagikan
Artikel Terkait
Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Market

IHSG Rebound ke 7.100, Saham Teknologi Ngegas! Ada 3 Rekomendasi Cuan Saat Asing Masih Kabur

IHSG Bangkit di Awal Perdagangan, Level 7.100 Kembali Ditembus finnews.id – Indeks...

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membuka 2026 dengan kinerja yang mengejutkan pasar. Emiten tambang pelat merah itu membukukan laba bersih Rp3,4 triliun pada kuartal I-2026,
Market

ANTM Meledak di Kuartal I 2026, Laba Melonjak 176 Persen! Lonjakan Harga Nikel dan Emas Jadi Mesin Cuan

Laba ANTM Melonjak Tajam, Kinerja Kuartal I Lampaui Ekspektasi finnews.id – PT...

GOTO cetak laba perdana Rp258 miliar pada kuartal I 2026, EBITDA tembus Rp907 miliar, fintech melesat dan buyback jadi sentimen baru.
Market

GOTO Cetak Sejarah! Laba Perdana Kuartalan Rp258 Miliar, EBITDA Tembus Rp907 Miliar dan Buyback Jadi Katalis Baru

finnews.id – Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk membuka 2026 dengan...

Ringkasan perdagangan pagi 29 April 2026: Wall Street melemah, IHSG oversold, minyak tembus US$110 dan saham pilihan jadi sorotan investor.
Market

Wall Street Terkoreksi, IHSG Oversold, Minyak Tembus US$110 dan Saham Pilihan Jadi Sorotan

Ringkasan Perdagangan Pagi 29 April 2026:  finnews.id – Sentimen global kembali mengguncang...