Home Market Harga Minyak Dunia Meledak Hampir 3 Persen, Krisis Selat Hormuz Bikin Pasokan Global Terancam
Market

Harga Minyak Dunia Meledak Hampir 3 Persen, Krisis Selat Hormuz Bikin Pasokan Global Terancam

Bagikan
Harga minyak dunia melonjak hampir 3 persen dipicu krisis Selat Hormuz, ancaman pasokan global, dan konflik AS-Iran yang belum mereda.
Kapal tanker pengangkut minyak - Dok Pertamina
Bagikan

Iran masih menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kombinasi dua faktor ini membuat pasar semakin sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.

Risiko jangka panjang kini mulai dihitung serius oleh investor energi. Gangguan di salah satu chokepoint energi paling vital di dunia dinilai bisa memicu lonjakan harga lanjutan bila tidak ada solusi diplomatik dalam waktu dekat.

Tanker Tertahan, Pasokan Menggantung di Laut

Data pelacakan kapal menunjukkan tekanan pasokan makin nyata. Enam tanker minyak Iran dilaporkan berbalik arah akibat blokade, sementara volume lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis dibanding kondisi normal.

Sebelum konflik, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi selat itu setiap hari. Kini aktivitas menurun tajam, menandakan distribusi energi global sedang menghadapi tekanan serius.

Data Vortexa bahkan menunjukkan minyak mentah yang tertahan di kapal tanker selama setidaknya tujuh hari mencapai 153,11 juta barel per 24 April. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Januari dan melonjak 25 persen dibanding 17 April.

Kondisi itu mempertegas kekhawatiran pasar bahwa persoalan saat ini bukan hanya soal produksi, melainkan bottleneck distribusi yang bisa memukul pasokan riil.

Bank Dunia Peringatkan Harga Energi Bisa Melonjak 24%

Risiko kenaikan harga belum berhenti. Bank Dunia bahkan memperingatkan harga energi global berpotensi naik hingga 24 persen sepanjang 2026, bahkan jika gangguan Timur Tengah mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan.

Proyeksi dasar lembaga tersebut mengasumsikan lalu lintas Selat Hormuz pulih bertahap pada Oktober. Namun risiko pasar dinilai condong ke arah upside, yang berarti peluang kenaikan harga lebih besar dibanding penurunan.

Artinya, volatilitas harga energi berpotensi bertahan lama dan memberi tekanan terhadap inflasi global, biaya logistik, hingga harga bahan bakar di banyak negara.

AS, Rusia, China Ikut Tambah Tekanan Pasar Minyak

Selain Timur Tengah, faktor lain ikut memperketat sentimen pasar.

Bagikan
Artikel Terkait
Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Market

IHSG Rebound ke 7.100, Saham Teknologi Ngegas! Ada 3 Rekomendasi Cuan Saat Asing Masih Kabur

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 0,48 persen ke level 7.072 dengan...

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membuka 2026 dengan kinerja yang mengejutkan pasar. Emiten tambang pelat merah itu membukukan laba bersih Rp3,4 triliun pada kuartal I-2026,
Market

ANTM Meledak di Kuartal I 2026, Laba Melonjak 176 Persen! Lonjakan Harga Nikel dan Emas Jadi Mesin Cuan

Volume bijih nikel juga relatif solid di 3,4 juta wmt pada kuartal...

GOTO cetak laba perdana Rp258 miliar pada kuartal I 2026, EBITDA tembus Rp907 miliar, fintech melesat dan buyback jadi sentimen baru.
Market

GOTO Cetak Sejarah! Laba Perdana Kuartalan Rp258 Miliar, EBITDA Tembus Rp907 Miliar dan Buyback Jadi Katalis Baru

Pada segmen mobilitas, GTV turun 12 persen secara kuartalan menjadi Rp5,7 triliun....

Ringkasan perdagangan pagi 29 April 2026: Wall Street melemah, IHSG oversold, minyak tembus US$110 dan saham pilihan jadi sorotan investor.
Market

Wall Street Terkoreksi, IHSG Oversold, Minyak Tembus US$110 dan Saham Pilihan Jadi Sorotan

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasokan energi global terganggu lebih lama, terutama dengan...