Di Amerika Serikat, harga bensin mencapai level tertinggi hampir empat tahun, menambah kekhawatiran konsumen terhadap biaya energi domestik.
Di Rusia, serangan drone Ukraina memicu kebakaran besar di kilang Tuapse berkapasitas sekitar 240 ribu barel per hari. Gangguan ini menambah tekanan di sisi pasokan global.
Sementara di Amerika Serikat, kebakaran di kilang Shell Norco Louisiana memang berhasil dipadamkan, namun belum ada kepastian kapan operasional kembali normal.
Dari Asia, China justru berpotensi meningkatkan ekspor bahan bakar pada Mei. Perusahaan minyak milik negara disebut mengajukan izin ekspor bensin, diesel, dan bahan bakar jet, yang berpotensi menjadi salah satu penyeimbang pasar.
Pasar Kini Bertaruh Harga Minyak Bisa Naik Lagi
Dengan kombinasi gangguan pasokan, konflik geopolitik, hambatan distribusi, serta tekanan kilang di beberapa negara, pasar kini bertaruh harga minyak belum mencapai puncaknya.
Selama Selat Hormuz belum pulih dan konflik belum menemukan jalan keluar, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Bahkan banyak pelaku pasar mulai memproyeksikan risiko harga minyak bergerak lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang.
Lonjakan terbaru ini sekaligus menjadi alarm bagi ekonomi global, karena kenaikan energi biasanya merembet ke inflasi pangan, biaya produksi, dan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. (*)
- dampak penutupan selat hormuz terhadap pasokan minyak global
- gangguan pasokan minyak global akibat hormuz
- harga energi 2026
- harga minyak dunia
- harga minyak dunia naik akibat selat hormuz
- harga minyak wti
- harga minyak wti sentuh 100 dolar per barel
- Headline
- Konflik AS Iran
- konflik as iran dorong harga minyak naik
- krisis energi global
- minyak Brent
- opec plus
- pasar komoditas
- pasokan minyak terganggu
- penyebab harga minyak brent melonjak 2026
- prediksi harga minyak dunia setelah krisis timur tengah
- risiko inflasi global akibat lonjakan harga energi
- Selat Hormuz