finnews.id – Harga minyak dunia bergerak liar dan bikin pelaku pasar waspada. Setelah sempat menembus level tertinggi dalam empat tahun, harga minyak langsung terkoreksi tajam. Situasi ini terjadi di tengah konflik panas antara :contentReference[oaicite:0]{index=0} dan :contentReference[oaicite:1]{index=1} yang terus memicu ketidakpastian pasokan energi global.

Minyak Sempat Terbang Tinggi, Lalu Jatuh

Minyak mentah Brent sempat menyentuh USD126,41 per barel, level tertinggi sejak Maret 2022. Namun, harga tersebut tak bertahan lama. Pada penutupan perdagangan, Brent justru merosot USD4,02 atau 3,41 persen ke posisi USD114,01 per barel.

Sementara itu, kontrak aktif Brent untuk pengiriman Juli masih mencatat kenaikan tipis 0,4 persen menjadi USD110,88 per barel setelah kontrak Juni berakhir.

Untuk pasar Amerika, minyak West Texas Intermediate (WTI) ikut melemah. Harga WTI ditutup turun USD1,81 atau 1,69 persen ke level USD105,07 per barel, meski sebelumnya sempat menyentuh USD110,93.

Volatilitas Tinggi, Aksi Ambil Untung Jadi Pemicu

Pergerakan tajam ini mencerminkan kondisi pasar yang sangat volatil. Sejak konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari, harga minyak sering bergerak ekstrem dalam waktu singkat.

Analis menilai penurunan harga dari puncaknya lebih dipengaruhi aksi ambil untung investor menjelang akhir bulan. Selain itu, berakhirnya kontrak Brent Juni juga ikut memicu fluktuasi.

Tamas Varga dari PVM menyebut pergerakan tajam lebih mencerminkan volatilitas tinggi dibandingkan perubahan fundamental. Hal senada disampaikan Ole Hvalbye dari SEB Research yang menilai kondisi pasar saat ini sulit dipetakan secara stabil.

Di sisi lain, Phil Flynn dari Price Futures Group melihat aksi jual dari hedge fund sebagai salah satu faktor yang menekan harga setelah reli panjang.

Dolar Melemah, Tekanan Tambahan untuk Minyak

Pelemahan dolar AS turut memberikan tekanan pada harga minyak. Yen Jepang melonjak hingga 3 persen setelah muncul sinyal intervensi dari otoritas Jepang. Kondisi ini membuat minyak yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli global.