Home Market Harga Minyak Terguncang! Trump Janji Buka Selat Hormuz, Brent & WTI Masih Bertahan di Atas USD100
Market

Harga Minyak Terguncang! Trump Janji Buka Selat Hormuz, Brent & WTI Masih Bertahan di Atas USD100

Bagikan
Harga minyak turun tipis usai Trump janji buka Selat Hormuz, namun Brent dan WTI masih bertahan di atas USD100 per barel.
Ilustrasi sumur minyak - Dok. ESDM -
Bagikan

Di satu sisi, Amerika Serikat ingin mendorong kesepakatan nuklir sebagai prioritas utama. Namun di sisi lain, Iran mengusulkan agar pembahasan nuklir ditunda hingga konflik berakhir. Iran juga meminta agar blokade terhadap jalur pelayaran di Teluk dicabut.

Perbedaan kepentingan ini membuat situasi semakin kompleks dan memicu ketidakpastian di pasar energi global.

Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Kunci

Selat Hormuz memegang peran vital dalam distribusi minyak dunia. Gangguan di jalur ini langsung berdampak pada pasokan global. Saat lalu lintas kapal terbatas, distribusi energi terganggu dan harga cenderung naik.

Meski ada rencana pembukaan akses, pasar masih menunggu implementasi nyata di lapangan. Selama jalur ini belum sepenuhnya normal, tekanan terhadap harga minyak akan tetap terasa.

OPEC+ Tambah Produksi, Tapi Belum Berdampak Nyata

Di tengah situasi tersebut, kelompok produsen minyak OPEC+ mengumumkan rencana peningkatan produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk Juni. Kenaikan ini melibatkan tujuh negara anggota dan menjadi penambahan ketiga dalam beberapa bulan terakhir.

Jumlah tersebut sebenarnya sejalan dengan rencana peningkatan pada Mei, setelah penyesuaian akibat keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC pada 1 Mei.

Namun, tambahan pasokan ini dinilai belum memberikan dampak signifikan. Selama konflik Iran berlanjut dan distribusi melalui Selat Hormuz terganggu, peningkatan produksi hanya akan menjadi angka di atas kertas.

Pasar Minyak Diprediksi Masih Bergejolak

Kombinasi antara ketegangan geopolitik, negosiasi yang mandek, serta kebijakan produksi OPEC+ membuat pasar minyak global berada dalam kondisi tidak stabil. Harga berpotensi terus bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.

Dengan kondisi saat ini, harga minyak diperkirakan sulit turun jauh dari level USD100 per barel. Pelaku pasar pun terus mencermati perkembangan konflik dan kebijakan energi global sebagai penentu arah berikutnya. (*)

 

Bagikan
Artikel Terkait
Jadwal lengkap RUPS emiten 4–8 Mei 2026, dari pembagian dividen hingga aksi korporasi yang berpotensi menggerakkan saham.
Market

Jadwal RUPS Emiten 4–8 Mei 2026: Deretan Agenda Penting, dari Bagi Dividen hingga Perubahan Direksi

Menariknya, sejumlah emiten seperti ARTO dan MARK juga memasukkan agenda aksi korporasi,...

Market

Daftar Terbaru! 15 Perusahaan Siap IPO di BEI 2026, Ini Sektor Favorit Investor

finnews.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 15 perusahaan masuk dalam...

Laba ADRO kuartal I 2026 turun akibat penjualan melemah, namun prospek tetap menarik dengan potensi bisnis aluminium.
Market

Laba ADRO Turun di Awal 2026, Volume Penjualan Jadi Biang Kerok! Prospek Masih Menarik?

Selain itu, tarif royalti juga meningkat menjadi 15 persen dari sebelumnya 12...

Gerbang Tol Cikampek Utama atau Cikatama (jasamarga)
Market

99 Ribu Kendaraan Padati Tol Cikampek Saat Long Weekend May Day 2026

finnews.id – Libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional...