Penurunan tersebut dipicu laporan bahwa Amerika dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai untuk menghentikan konflik.
Namun, pembicaraan damai disebut belum menyentuh isu paling sensitif, termasuk tuntutan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Walau harga minyak hari ini menguat, secara mingguan Brent dan WTI masih diperkirakan turun sekitar 6%.
Kondisi itu menunjukkan pasar masih bergerak sangat fluktuatif dan sensitif terhadap perkembangan geopolitik terbaru.
Analis Sebut Pasar Minyak Mulai Tidak Stabil
Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, menilai pasar minyak saat ini bergerak sangat emosional dan tidak lagi sepenuhnya berdasarkan faktor fundamental.
“Pasar berada di ambang keruntuhan total,” ujar Hari.
Menurut dia, pembentukan harga minyak kini lebih banyak dipengaruhi spekulasi dibandingkan analisis realistis mengenai kondisi perang maupun situasi fisik di Selat Hormuz.
Hari juga menilai pasar terlalu optimistis terhadap peluang perdamaian antara Amerika dan Iran.
“Pemerintahan AS terus melebih-lebihkan prospek perdamaian, dan pasar yang optimistis ikut terpengaruh,” katanya.
Ia menambahkan bahwa setiap rebound harga minyak terjadi secara bertahap dan sering tidak bertahan lama, sehingga memunculkan fenomena head fake atau sinyal palsu di pasar.
Pasokan Minyak Global Masih Ketat
Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan kondisi pasokan minyak dunia saat ini tetap ketat meski muncul harapan damai.
“Dari sisi pasokan, situasinya tetap ketat,” ujar Sycamore.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih melihat risiko besar terhadap distribusi energi global apabila konflik kembali membesar.
Karena itu, setiap perkembangan kecil di Timur Tengah langsung berdampak besar terhadap harga minyak internasional.
Perdagangan Spekulatif USD7 Miliar Jadi Sorotan
Di tengah gejolak pasar, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas Amerika Serikat atau CFTC juga sedang menyelidiki transaksi minyak senilai USD7 miliar.
Investigasi tersebut berkaitan dengan aktivitas perdagangan menjelang pengumuman penting Presiden Donald Trump terkait perang Iran.