Sektor yang paling terdampak meliputi industri padat energi dan logistik, seperti transportasi, pergudangan, manufaktur berbasis bahan baku impor, perdagangan, hingga sektor akomodasi dan restoran. Jika daya beli masyarakat ikut tertekan, dampaknya bisa meluas ke sektor lain.

Masih Bisa Tahan di 5%, Asal Ini Stabil

Meski menghadapi berbagai tekanan, pertumbuhan ekonomi kuartal II diperkirakan tidak akan anjlok. Josua menilai kunci utamanya terletak pada stabilitas harga energi dan nilai tukar rupiah.

Selama harga BBM subsidi tetap terkendali, belanja pemerintah berjalan optimal, dan konsumsi masyarakat tidak turun drastis, ekonomi masih mampu bertahan di level sekitar 5,2 persen.

Namun, jika tekanan harga minyak dan pelemahan rupiah terus berlanjut, pertumbuhan berpotensi turun ke kisaran bawah, mendekati 5,0 persen atau bahkan lebih rendah. Risiko ini semakin besar jika ekspor manufaktur dan daya beli melemah secara bersamaan.

Kuartal I Kuat, Tapi Tidak Sepenuhnya Berkelanjutan

Josua mengingatkan bahwa capaian 5,61 persen pada kuartal I memang sangat kuat, bahkan melampaui ekspektasi. Namun, ia menilai kualitas pertumbuhan tersebut perlu dicermati secara hati-hati.

Pasalnya, lonjakan tersebut banyak ditopang oleh faktor musiman, belanja pemerintah, serta basis pembanding yang relatif rendah. Artinya, momentum tersebut tidak sepenuhnya berkelanjutan di kuartal berikutnya.

Dengan berbagai dinamika yang terjadi, ekonomi Indonesia tetap berada di jalur pertumbuhan positif. Meski melambat, laju di atas 5 persen menunjukkan daya tahan yang cukup kuat di tengah tekanan global dan domestik. (*)