Home Nasional Ekonomi RI Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat, Tapi Masih Tahan di Atas 5 Persen — Ini Faktor Penentunya
Nasional

Ekonomi RI Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat, Tapi Masih Tahan di Atas 5 Persen — Ini Faktor Penentunya

Bagikan
Ekonomi RI kuartal II-2026 diprediksi melambat ke 5,1-5,3%. Tekanan minyak, rupiah, dan manufaktur jadi faktor utama.
Ilustrasi - Pertumbuhan ekonomi (Pexels - Kindel Media)
Bagikan

finnews.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan tetap solid di atas 5 persen, meski mulai kehilangan momentum kuat seperti pada awal tahun. Setelah mencatatkan lonjakan 5,61 persen di kuartal I, laju ekonomi kini diproyeksi melandai ke kisaran 5,1 hingga 5,3 persen secara tahunan.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, melihat tren ini sebagai pergerakan yang masih sehat, tetapi lebih realistis. Ia menegaskan bahwa ekonomi domestik tetap memiliki fondasi kuat, meski tekanan mulai bermunculan dari dalam dan luar negeri.

Efek Ramadan Hilang, Konsumsi Mulai Normal

Josua menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama perlambatan ekonomi kuartal kedua berasal dari berakhirnya dorongan musiman. Selama kuartal I, aktivitas ekonomi terdongkrak signifikan oleh momentum Ramadan dan Idul Fitri yang meningkatkan konsumsi rumah tangga.

Namun, memasuki April hingga Juni, pola belanja masyarakat kembali normal. Akibatnya, mesin utama pertumbuhan—konsumsi domestik—tidak lagi sekuat sebelumnya. Kondisi ini membuat laju ekonomi cenderung melandai secara alami.

Tekanan Eksternal Mulai Menggigit

Selain faktor musiman, tekanan eksternal kini semakin terasa. Harga minyak global yang tinggi menjadi salah satu pemicu utama kenaikan biaya di berbagai sektor. Di saat yang sama, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperbesar beban impor dan biaya produksi.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga ikut memperparah situasi. Biaya logistik melonjak, sehingga menekan margin pelaku usaha, terutama di sektor distribusi dan transportasi. Kombinasi faktor ini menciptakan tekanan berlapis terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Sinyal Pelemahan Mulai Terlihat di Sektor Manufaktur

Data PMI Manufaktur April 2026 menunjukkan adanya perlambatan signifikan. Output industri tercatat turun paling cepat sejak Mei 2025. Di sisi lain, biaya input melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Tak hanya itu, kepercayaan pelaku usaha juga melemah dan menyentuh titik terendah sejak November 2025. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan biaya dan melemahnya permintaan global mulai menahan ekspansi produksi di kuartal II.

Dampak Konflik Iran Tidak Langsung, Tapi Tetap Berpengaruh

Ketegangan geopolitik, khususnya konflik Iran, dinilai tidak berdampak langsung terhadap konsumsi domestik. Namun, efek tidak langsungnya cukup terasa melalui kenaikan harga energi, fluktuasi nilai tukar, serta gangguan perdagangan internasional.

Bagikan
Artikel Terkait
Nasional

Profil Letjen Agus Widodo, Eks Danrem Papua dan Lulusan Akmil 1995 yang Calon Jadi Waka BIN

finnews.id – Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal (Letjen) TNI Agus...

Nasional

Pariwisata Indonesia Melesat di 2026 !! Turis Malaysia Dominasi Kunjungan

finnews.id – Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, menunjukkan tren sangat...

Nasional

Daftar Lengkap Harga Hewan Kurban 2026 di Dompet Dhuafa: Panduan Praktis Ibadah Idul Adha

finnews.id – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 2026, antusiasme masyarakat Indonesia...

Nasional

Gaji Cepat Habis? Simak Metode 50/30/20, Solusi Cerdas Atur Keuangan Agar Masa Depan Terjaga

finnews.id – Memasuki pertengahan tahun, banyak masyarakat mulai mengeluhkan kondisi finansial yang...