Oleh: Dahlan Iskan
Menjadi juru bicara itu menyesakkan. Posisinya sering kejepit. Ia/dia hidup di dunia nyata tapi kadang harus bicara yang bukan ia lihat. Misalnya soal keluhan mati lampu belakangan ini. Juru bicara PLN tahu apa penyebabnya tapi tidak boleh menjawab senyatanya.
“Sedang ada pemeliharaan,” hanya itu jawab sang juru bicara di radio Suara Surabaya (SS) yang amat populer sebagai tempat curhat publik.
Hari itu keluhan mati listrik sangat banyak. SS sudah seperti dikira bagian customer service PLN. Penyiar SS pun menghubungi PLN. Agar ada petugas PLN yang menjawab. Jawabannyi, itu tadi: mati karena ada pemeliharaan jaringan.
Penyiar SS sendiri tahu: kalau ada pemeliharaan biasanya pengadu datang dari satu kawasan yang berada dalam satu jalur aliran listrik. Tapi curhat yang masuk hari itu datang dari banyak wilayah yang berbeda. Berarti bukan akibat pemeliharaan.
Penyiar SS masih “kura-kura dalam perahu”:
“Kalau mati karena ada pemeliharaan biasanya berapa jam?”
“Maksimum dua jam,” jawab sang juru bicara. Itu jawaban yang benar. Doktrinnya memang begitu. Agar barang makanan di kulkas tidak rusak. Agar ikan di akuarium masih selamat.
Tapi di hari sebelum pemeliharaan biasanya PLN info ke SS: daerah mana saja yang akan dipadamkan. Kalau keesokan harinya ada pengaduan, SS sendiri bisa menjelaskan.
Kali ini SS tidak dapat info apa-apa. Tahu-tahu dibanjiri pengaduan mati lampu.
Sepede-pede juru bicara kepleset juga justru karena ingin bicara kebenaran. Yakni “benar” bahwa mati lampu akibat pemeliharaan hanya dua jam.
Logika publik langsung seperti kena setrum. “Di tempat saya mati lampunya sudah empat jam,” komentar pendengar SS. Berarti ini bukan karena ada pemeliharaan.
Maka “pemeliharaan” hanyalah alasan untuk menutupi penyebab yang sebenarnya.
Sang juru bicara tentu klepek-klepek. Dia telah telanjur mengatakan dua kebenaran yang saling bertentangan. Untung penyiar SS pintar menyelamatkan keadaan tanpa ada yang harus merasa malu.