Saya yang juga sedang mendengar SS di perjalanan ke Mojokerto tentu iba kepada juru bicara PLN itu. Dia tahu penyebab mati listrik adalah “xyz” tapi dia harus mengatakan “zyx”. Dia harus begitu. Agar selamat.
Tapi di hari sebelum pemeliharaan biasanya PLN info ke SS: daerah mana saja yang akan dipadamkan. Kalau keesokan harinya ada pengaduan, SS sendiri bisa menjelaskan.
Kali ini SS tidak dapat info apa-apa. Tahu-tahu dibanjiri pengaduan mati lampu.
Sepede-pede juru bicara kepleset juga justru karena ingin bicara kebenaran. Yakni “benar” bahwa mati lampu akibat pemeliharaan hanya dua jam.
Logika publik langsung seperti kena setrum. “Di tempat saya mati lampunya sudah empat jam,” komentar pendengar SS. Berarti ini bukan karena ada pemeliharaan.
Maka “pemeliharaan” hanyalah alasan untuk menutupi penyebab yang sebenarnya.
Sang juru bicara tentu klepek-klepek. Dia telah telanjur mengatakan dua kebenaran yang saling bertentangan. Untung penyiar SS pintar menyelamatkan keadaan tanpa ada yang harus merasa malu.
Saya yang juga sedang mendengar SS di perjalanan ke Mojokerto tentu iba kepada juru bicara PLN itu. Dia tahu penyebab mati listrik adalah “xyz” tapi dia harus mengatakan “zyx”. Dia harus begitu. Agar selamat.
Pernah seorang dirjen kehilangan jabatan yang begitu tinggi hanya karena mengatakan angka yang berbeda dengan atasannya. Sampai sekarang, sudah sekitar setahun, jabatan itu masih kosong. Seorang dirjen lainnya merangkap jabatan sebagai Pjs dirjen yang kosong. Bagus juga. Lebih efisien. Kalau semua kedirjenan bisa dirangkap-rangkap alangkah sederhananya birokrasi.
Kebenaran kadang memang harus datang secara bertahap. Belakangan sudah tidak ada lagi alasan bahwa mati lampu akibat pemeliharaan. Tahapnya sudah sampai pada “mati lampu akibat dua pembangkit listrik besar-besar di Jawa mengalami masalah teknis”. Berarti mati lampu selama ini akibat kekurangan listrik. Bukan akibat pemeliharaan.
Alasan terbaru itu benar. Tidak bohong –kalau saja tidak ada “kebenaran” yang lebih baru.