finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari industri baja nasional. Osaka Steel Co Ltd resmi menghentikan seluruh produksi anak usahanya, PT Krakatau Osaka Steel (KOS), di Cilegon sejak 30 April 2026.
Penutupan ini menandai berakhirnya kerja sama strategis antara Osaka Steel dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang telah berjalan lebih dari satu dekade.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan bahwa keputusan ini dipicu oleh ketidakmampuan perusahaan bersaing di tengah tekanan pasar global dan kondisi keuangan yang memburuk.
“Mereka kesulitan bersaing dan mengalami tekanan finansial, sehingga memutuskan menutup operasional,” ujarnya.
Penurunan tajam permintaan baja domestik, ditambah ketatnya persaingan dan membanjirnya produk impor murah, membuat margin keuntungan terus tergerus.
Operasional Berhenti Bertahap
Meski produksi sudah dihentikan, pengiriman produk masih akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 sebagai bagian dari proses penutupan.
Pabrik ini sebelumnya memiliki kapasitas produksi hingga 500.000 ton per tahun dan menyerap sekitar 170 tenaga kerja.
Dampak ke Industri & Ancaman PHK
Penutupan KOS memicu kekhawatiran terhadap kondisi industri baja nasional. Wakil Ketua Umum Kadin, Erwin Aksa, menyebut sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi dan tekanan impor.
Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, menyatakan akan turun langsung mengecek kondisi pekerja di lapangan, terutama terkait potensi PHK massal.
Kilas Balik: Dari Optimisme Hingga Tutup Permanen
2012–2015: Awal Penuh Harapan
- KOS didirikan pada 2012 dengan optimisme tinggi terhadap pertumbuhan industri baja nasional. Proyek pabrik dimulai pada 2015 dengan investasi sekitar US$220 juta.
2017: Mulai Produksi Komersial
- Pabrik mulai beroperasi dengan target produksi 500.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan konstruksi dalam negeri.
2021: Sempat Catat Laba
- Kinerja perusahaan sempat positif seiring tingginya permintaan baja domestik.
2022–2025: Mulai Tertekan
- Persaingan meningkat, margin menyusut, dan permintaan turun drastis akibat efisiensi anggaran infrastruktur pemerintah.
2026: Akhir Operasi
- Setelah evaluasi menyeluruh, Osaka Steel memutuskan menghentikan seluruh kegiatan usaha di Indonesia.
Tantangan Industri Baja Nasional
Penutupan KOS menjadi sinyal keras bagi industri baja Indonesia. Selain tekanan global, industri juga menghadapi:
- Lonjakan harga energi
- Serbuan produk impor murah
- Penurunan proyek infrastruktur
- Margin keuntungan yang semakin tipis
Jika tidak ada intervensi strategis, bukan tidak mungkin lebih banyak pabrik baja menghadapi nasib serupa.