Home Market Saham Ritel Berpotensi Bergerak, Kinerja AMRT dan MAPI Diprediksi Solid, ACES Justru di Bawah Ekspektasi
Market

Saham Ritel Berpotensi Bergerak, Kinerja AMRT dan MAPI Diprediksi Solid, ACES Justru di Bawah Ekspektasi

Bagikan
AMRT dan MAPI diproyeksi solid pada kuartal I-2026, sementara ACES berisiko di bawah ekspektasi. Harga minyak jadi ancaman baru sektor ritel.
Ilustrasi - AMRT dan MAPI diproyeksi solid pada kuartal I-2026, sementara ACES berisiko di bawah ekspektasi. Harga minyak jadi ancaman baru sektor ritel.
Bagikan

Tekanan itu makin terasa karena belum ada kenaikan harga sebelumnya. Baru pada April 2026, ACES mulai melakukan penyesuaian harga sekitar 10% untuk merespons tekanan biaya, termasuk dampak kenaikan harga minyak terhadap bahan berbasis plastik.

MAPI juga diperkirakan mengalami normalisasi margin menjadi 42,9%, turun 101 basis poin secara tahunan. Perubahan product mix, terutama terkait penjualan iPhone 17, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja margin perseroan.

Efisiensi Operasional Jadi Penopang Laba

Di tengah tekanan biaya, efisiensi operasional menjadi penahan utama profitabilitas emiten ritel.

ACES diperkirakan mencatat perbaikan rasio biaya operasional terhadap penjualan menjadi 41,2%, turun 115 basis poin secara tahunan. Penurunan rasio belanja promosi dan iklan ikut menopang efisiensi ini.

AMRT juga diproyeksi mencatat perbaikan opex-to-sales ratio menjadi 18,7%, turun 21 basis poin. Efek utilisasi distribution center baru yang dibuka pada 2025 mulai memberi dampak positif.

Sementara itu, MAPI diperkirakan membukukan penurunan rasio biaya operasional terhadap penjualan menjadi 33,9%, atau membaik 173 basis poin. Efisiensi berkelanjutan serta ekspansi gerai yang lebih selektif menjadi penopangnya.

Menariknya, rasio biaya sewa terhadap penjualan MAPI hanya naik 7,2% sepanjang 2025, jauh di bawah rata-rata tiga tahun sebesar 37,5%. Ini menunjukkan strategi ekspansi yang lebih disiplin mulai memberi hasil.

AMRT dan MAPI Inline, ACES Berisiko Mengecewakan

Dari sisi laba bersih, AMRT dan MAPI diperkirakan mencatat hasil yang inline dengan ekspektasi pasar.

Namun, cerita berbeda muncul di ACES. Proyeksi laba emiten ini justru diperkirakan di bawah konsensus, terutama akibat tekanan margin dan kenaikan biaya.

Kondisi ini menarik karena dalam tiga bulan terakhir konsensus justru menaikkan asumsi margin FY2026 sebesar 16 basis poin, meski rupiah menghadapi tekanan terhadap yuan.

Artinya, jika realisasi tidak sesuai harapan, ruang koreksi terhadap ekspektasi pasar masih terbuka.

Harga Minyak Jadi Ancaman Baru untuk Ritel

Meski momentum Lebaran memberi dorongan, risiko belum hilang. Harga minyak yang bertahan tinggi kini menjadi faktor yang paling diwaspadai.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP, Maksimal 25 Kg per Orang untuk Cegah Penimbunan

Dengan adanya pembatasan, diharapkan beras bersubsidi dapat dinikmati lebih merata oleh masyarakat,...

Market

Ini Dampak Penerapan Strategi DMO Minyak Goreng pada Harga di Pasaran

Lonjakan harga plastik menjadi tantangan baru bagi stabilitas harga minyak goreng, termasuk...

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG jatuh 3,38%, asing net sell Rp2 triliun, BBCA hingga BMRI ditekan jual besar.
Market

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG Ambruk 3,38 Persen, Asing Kabur Rp2 Triliun, Saham Big Caps Dihantam Aksi Jual

DSSA turun 10,22%. FILM merosot 10,04%. PTRO melemah 9,31%. ENRG turun 9,09%....

Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Market

Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan

Galvin Chia dari Societe Generale menilai mata uang negara yang sangat bergantung...