Home Market Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan
Market

Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan

Bagikan
Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Ilustrasi - Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Bagikan

finnews.id – Tekanan di pasar keuangan Asia kembali memanas. Mayoritas mata uang dan indeks saham emerging market Asia melemah pada perdagangan Jumat (24/4/2026), dipicu penguatan dolar AS di tengah mandeknya negosiasi damai Amerika Serikat dan Iran.

Di tengah tekanan regional tersebut, rupiah sempat menunjukkan penguatan terbatas. Namun pergerakan itu belum cukup kuat untuk menjauh dari rekor terendahnya. Pada saat yang sama, IHSG justru terperosok tajam dan menjadi salah satu bursa dengan tekanan terdalam di kawasan.

IHSG Terpelanting, Jadi Bursa dengan Tekanan Paling Dalam

Pasar saham domestik menjadi sorotan setelah IHSG jatuh 3,5% ke level terendah sejak 8 April. Koreksi ini memperpanjang pelemahan mingguan menjadi lebih dari 5,5%, sekaligus menjadi penurunan terburuk sejak awal Maret.

Tekanan besar di pasar ekuitas Indonesia muncul saat sebagian bursa regional justru masih menjaga momentum kenaikan mingguan. Indeks saham emerging market Asia versi MSCI bahkan masih mencatat peluang penguatan untuk pekan ketiga berturut-turut.

Sementara tekanan mengguncang Jakarta, pasar lain menunjukkan cerita berbeda. Indeks KLSE Malaysia relatif stabil dan berpotensi menutup pekan dengan kenaikan lebih dari 1,5%, kinerja terbaik sejak pertengahan Januari.

Di Korea Selatan, KOSPI bergerak datar namun masih berada di jalur reli tiga pekan beruntun, ditopang sentimen sektor kecerdasan buatan. Bursa Taiwan bahkan melesat lebih dari 3% dan mencetak rekor tertinggi baru di 38.989,94 poin.

Rupiah Menguat Tipis, Tapi Risiko Belum Pergi

Di pasar valuta asing, rupiah sempat menguat sebelum kembali melemah di kisaran Rp17.290 per dolar AS. Posisi itu masih sangat dekat dengan rekor terendah Rp17.320 yang tercatat sehari sebelumnya.

Secara mingguan, rupiah sudah turun sekitar 0,6% dan mengarah pada pelemahan tiga pekan berturut-turut. Kondisi ini menegaskan tekanan eksternal masih membayangi aset domestik.

Penguatan dolar AS menjadi pemicu utama, terutama setelah pembicaraan damai AS-Iran berjalan rapuh dan belum menghasilkan kepastian baru bagi pasar.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP, Maksimal 25 Kg per Orang untuk Cegah Penimbunan

finnews.id – Pemerintah resmi membatasi pembelian beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga...

Market

Ini Dampak Penerapan Strategi DMO Minyak Goreng pada Harga di Pasaran

finnews.id – Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang diterapkan pemerintah terbukti mulai...

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG jatuh 3,38%, asing net sell Rp2 triliun, BBCA hingga BMRI ditekan jual besar.
Market

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG Ambruk 3,38 Persen, Asing Kabur Rp2 Triliun, Saham Big Caps Dihantam Aksi Jual

finnews.id – Perdagangan penutup pekan menghadirkan tekanan besar di pasar modal domestik....

AMRT dan MAPI diproyeksi solid pada kuartal I-2026, sementara ACES berisiko di bawah ekspektasi. Harga minyak jadi ancaman baru sektor ritel.
Market

Saham Ritel Berpotensi Bergerak, Kinerja AMRT dan MAPI Diprediksi Solid, ACES Justru di Bawah Ekspektasi

finnews.id – Sektor ritel konsumsi non-primer mulai memunculkan sinyal menarik pada kuartal...