Home Market Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan
Market

Rupiah Tertahan di Zona Rentan, IHSG Ambruk 5,5 Persen Sepekan saat Pasar Asia Emerging Market Tertekan

Bagikan
Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Ilustrasi - Rupiah masih tertekan dekat rekor terendah, sementara IHSG ambruk 5,5% sepekan saat mayoritas pasar Asia emerging market melemah.
Bagikan

Galvin Chia dari Societe Generale menilai mata uang negara yang sangat bergantung pada impor minyak masih rawan terguncang.

“Mata uang negara dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak seperti rupee India, rupiah, peso Filipina, dan baht Thailand akan tetap rentan, terutama pada tahap awal konflik Iran,” ujarnya.

Ia juga menyoroti negara dengan defisit kembar berpotensi menghadapi tekanan lebih besar saat gejolak global meningkat.

Peso Filipina Tersungkur, Ringgit dan Baht Ikut Tertekan

Bukan hanya rupiah yang menghadapi tekanan. Peso Filipina menyentuh level terendah hampir empat pekan di 60,755 per dolar AS setelah melemah 0,5%. Dalam sepekan, mata uang itu sudah turun hampir 2%, kinerja terburuk dalam tujuh pekan.

Tekanan terjadi meski bank sentral Filipina baru menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,50% dan membuka peluang pengetatan lanjutan demi meredam inflasi.

Ringgit Malaysia juga melemah 0,3% ke posisi terendah sejak 13 April. Sementara baht Thailand turun ke 32,555 per dolar, level terendah sejak awal April, dan menuju penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan Maret.

Secara regional, indeks mata uang emerging market global juga turun tipis dan mendekati posisi terendah sejak 13 April, menandakan tekanan bukan hanya terjadi di Asia.

Dolar Perkasa, Sentimen Risiko Menguat

Pasar sedang bergerak dalam mode risk-off. Investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman setelah negosiasi geopolitik belum menunjukkan arah yang solid.

Meski Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, mandeknya pembicaraan tetap membuat pasar menahan optimisme.

Akibatnya, aset-aset berisiko di emerging market kehilangan momentum. Mata uang tertekan, arus modal cenderung defensif, dan pasar saham bergerak volatil.

Performa Asia: Indonesia Paling Tertekan

Kinerja Mata Uang Harian

Rupiah tercatat menguat 0,47% secara harian, namun secara year-to-date masih minus 3,08%.

Peso Filipina turun 0,47% dan melemah 3,16% sejak awal tahun.

Won Korea turun 0,27%, baht Thailand melemah 0,06%, sedangkan yuan China terkoreksi 0,05%.

Kinerja Bursa Saham

IHSG menjadi indeks dengan tekanan terdalam secara harian, turun 3,40%, dan secara year-to-date sudah merosot 17,57%.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP, Maksimal 25 Kg per Orang untuk Cegah Penimbunan

Dengan adanya pembatasan, diharapkan beras bersubsidi dapat dinikmati lebih merata oleh masyarakat,...

Market

Ini Dampak Penerapan Strategi DMO Minyak Goreng pada Harga di Pasaran

Lonjakan harga plastik menjadi tantangan baru bagi stabilitas harga minyak goreng, termasuk...

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG jatuh 3,38%, asing net sell Rp2 triliun, BBCA hingga BMRI ditekan jual besar.
Market

Ringkasan Bursa 24 April 2026: IHSG Ambruk 3,38 Persen, Asing Kabur Rp2 Triliun, Saham Big Caps Dihantam Aksi Jual

DSSA turun 10,22%. FILM merosot 10,04%. PTRO melemah 9,31%. ENRG turun 9,09%....

AMRT dan MAPI diproyeksi solid pada kuartal I-2026, sementara ACES berisiko di bawah ekspektasi. Harga minyak jadi ancaman baru sektor ritel.
Market

Saham Ritel Berpotensi Bergerak, Kinerja AMRT dan MAPI Diprediksi Solid, ACES Justru di Bawah Ekspektasi

Tekanan itu makin terasa karena belum ada kenaikan harga sebelumnya. Baru pada...