Galvin Chia dari Societe Generale menilai mata uang negara yang sangat bergantung pada impor minyak masih rawan terguncang.
“Mata uang negara dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak seperti rupee India, rupiah, peso Filipina, dan baht Thailand akan tetap rentan, terutama pada tahap awal konflik Iran,” ujarnya.
Ia juga menyoroti negara dengan defisit kembar berpotensi menghadapi tekanan lebih besar saat gejolak global meningkat.
Peso Filipina Tersungkur, Ringgit dan Baht Ikut Tertekan
Bukan hanya rupiah yang menghadapi tekanan. Peso Filipina menyentuh level terendah hampir empat pekan di 60,755 per dolar AS setelah melemah 0,5%. Dalam sepekan, mata uang itu sudah turun hampir 2%, kinerja terburuk dalam tujuh pekan.
Tekanan terjadi meski bank sentral Filipina baru menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,50% dan membuka peluang pengetatan lanjutan demi meredam inflasi.
Ringgit Malaysia juga melemah 0,3% ke posisi terendah sejak 13 April. Sementara baht Thailand turun ke 32,555 per dolar, level terendah sejak awal April, dan menuju penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan Maret.
Secara regional, indeks mata uang emerging market global juga turun tipis dan mendekati posisi terendah sejak 13 April, menandakan tekanan bukan hanya terjadi di Asia.
Dolar Perkasa, Sentimen Risiko Menguat
Pasar sedang bergerak dalam mode risk-off. Investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman setelah negosiasi geopolitik belum menunjukkan arah yang solid.
Meski Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, mandeknya pembicaraan tetap membuat pasar menahan optimisme.
Akibatnya, aset-aset berisiko di emerging market kehilangan momentum. Mata uang tertekan, arus modal cenderung defensif, dan pasar saham bergerak volatil.
Performa Asia: Indonesia Paling Tertekan
Kinerja Mata Uang Harian
Rupiah tercatat menguat 0,47% secara harian, namun secara year-to-date masih minus 3,08%.
Peso Filipina turun 0,47% dan melemah 3,16% sejak awal tahun.
Won Korea turun 0,27%, baht Thailand melemah 0,06%, sedangkan yuan China terkoreksi 0,05%.
Kinerja Bursa Saham
IHSG menjadi indeks dengan tekanan terdalam secara harian, turun 3,40%, dan secara year-to-date sudah merosot 17,57%.
- analisis emerging market Asia melemah
- bursa Asia melemah
- dampak konflik Iran terhadap pasar Asia
- dolar AS menguat
- emerging market Asia
- Geopolitik AS Iran
- Headline
- IHSG anjlok
- kenapa IHSG turun tajam hari ini
- Nilai Tukar Rupiah
- Pasar Saham Asia
- pengaruh dolar kuat terhadap pasar Indonesia
- penyebab rupiah melemah terhadap dolar AS 2026
- pergerakan rupiah dan IHSG terbaru
- peso Filipina
- prospek rupiah setelah rekor terendah
- rupiah hari ini
- sentimen global
- sentimen global terhadap saham Indonesia