finnews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan awal pekan dengan langkah positif. Berdasarkan pantauan data Bloombergtechnoz pada Senin (20/4) pagi, mata uang Garuda sukses menguat 0,23 persen dan bertengger di level Rp17.150 per dolar AS saat pasar baru saja membuka transaksi.
Meski membuka sesi dengan pijakan yang cukup kuat, apresiasi rupiah perlahan menyusut. Rupiah kemudian mengoreksi penguatannya menjadi 0,15 persen dan turun tipis ke posisi Rp17.168 per dolar AS. Pergerakan defensif ini merespons indeks dolar AS yang terus merangkak naik menuju level 98,35. Kenaikan indeks greenback tersebut terjadi akibat memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik di Timur Tengah ini serta-merta memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Pasar mencatat harga minyak mentah meroket tajam secara persisten sebesar 5,51 persen hingga menembus level US$95,36 per barel. Situasi energi dan geopolitik yang serba tidak pasti ini membuat pergerakan mata uang di kawasan Asia bergerak sangat bervariasi.
Walaupun rupiah masih mampu menjaga posisi di zona hijau, para analis memprediksi tekanan eksternal akan semakin membebani perekonomian domestik. Salah satu isu utama menyoroti pergerakan liar harga minyak dunia yang kini jauh melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah harus mewaspadai harga minyak yang bertahan tinggi ini karena berpotensi menjepit ruang fiskal negara. Lebih dari itu, ancaman inflasi impor (imported inflation) akibat pembengkakan defisit neraca perdagangan energi siap mengintai. Kondisi ini dapat merusak persepsi investor dan memperburuk risiko pasar keuangan Indonesia di mata dunia.
Kepanikan investor juga mulai tergambar jelas dari aktivitas pasar obligasi domestik. Para pelaku pasar melakukan aksi jual masif sehingga mendorong kenaikan imbal hasil (yield) pada surat utang bertenor pendek dan menengah. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya tingkat ketidakpastian global saat ini yang membuat investor menata ulang portofolio mereka.
Data pasar mencatat imbal hasil untuk obligasi tenor 1 tahun melonjak 4 basis poin (bps) menjadi 5,6 persen. Kemudian, yield tenor 3 tahun naik 3,4 bps menuju level 6,06 persen. Sementara itu, imbal hasil untuk tenor 4 tahun dan 5 tahun kompak mengalami koreksi naik, yang mana masing-masing menyentuh angka 6,29 persen dan 6,32 persen.
Melihat dinamika tersebut, para pengamat memperkirakan nilai tukar rupiah di pasar spot akan bergerak terbatas. Mata uang Indonesia memiliki kecenderungan melemah dalam jangka pendek karena para investor global terus memburu aset aman (safe haven). Rupiah kemungkinan besar akan berayun pada rentang Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar