finnews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyoroti fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.
Bahlil menegaskan, bahwa BBM subsidi seharusnya hanya digunakan oleh kelompok masyarakat yang memang berhak.
Menurutnya, kalangan mampu yang ikut menggunakan BBM jenis ini sama saja dengan mengambil jatah orang lain yang membutuhkan.
Dalam pernyataannya, Bahlil bahkan menyentil pejabat maupun masyarakat kelas atas yang berpindah ke BBM subsidi akibat lonjakan harga BBM beroktan tinggi.
“Saya cuma mau sampaikan sajalah, BBM subsidi itu kepada saudara-saudara kita yang berhak. Jangan model kayak saya, kayak Dirjen, Wamen, karena harga BBM RON 98 naik tiba-tiba mereka masuk ke subsidi,” ungkap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM
Ia mempertanyakan rasa empati mereka terhadap masyarakat kecil, dengan nada sindiran agar memiliki kesadaran moral.
“Itu kita mengambil hak saudara-saudara kita yang berhak menerimanya. Apa tidak malu kita?,” jelasnya.
Dampak Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga pada sejumlah BBM nonsubsidi sejak pertengahan April 2026, memicu potensi pergeseran konsumsi ke BBM subsidi.
Kondisi ini dikhawatirkan akan membebani anggaran negara, sekaligus mengurangi akses bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengendalikan distribusi BBM subsidi agar lebih tepat sasaran.
Salah satunya adalah pembatasan volume pembelian untuk kendaraan roda empat, yang ditetapkan sekitar 50 liter per hari.
Kebijakan ini tidak berlaku untuk kendaraan tertentu seperti angkutan umum dan logistik, yang membawa kebutuhan pokok.
“Tapi itu tidak berlaku untuk bus, truk-truk yang mengangkut beras, mengangkut sayur, logistik. Jangan truk yang dipakai untuk kelapa sawit sama tambang,” ucapnya.
Sementara itu, kendaraan roda dua masih belum dikenakan pembatasan, meskipun masyarakat tetap diimbau untuk menggunakan BBM secara bijak.
Selain aturan formal, pemerintah juga menekankan pentingnya kesadaran individu.
Praktik seperti pengisian berulang menggunakan jeriken atau bolak-balik ke SPBU untuk mendapatkan BBM subsidi, dinilai sebagai bentuk penyalahgunaan.
“Untuk motor sampai dengan sekarang mau isi berapa saja tidak apa-apa. (Meski begitu) Kita harus punya hati. Janganlah kau pakai jeriken, janganlah kau bolak-balik, kasihan rakyat kita.Cari rezeki itu penting tapi yang baik-baik ya,” tuturnya.
Bahlil mengingatkan bahwa mencari keuntungan tetap harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak merugikan masyarakat lain, terutama mereka yang bergantung pada subsidi pemerintah.