finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari sektor infrastruktur tanah air. Indonesia yang selama ini “hobi” belanja aspal dari luar negeri hingga 1 juta ton setiap tahunnya, bersiap melakukan manuver besar. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sedang menyiapkan “bom” regulasi yang bakal mengguncang pasar material konstruksi global.

Menteri PU, Dody Hanggodo, memastikan bahwa era ketergantungan pada aspal impor akan segera berakhir. Indonesia akan memanfaatkan harta karun tersembunyi dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, untuk mengejar target swasembada aspal mulai Mei 2026. Langkah ini bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan aksi nyata yang bakal mengubah peta kekuatan industri konstruksi nasional.

Strategi A30: Meniru Kesuksesan Biodiesel B30

Ingat bagaimana Indonesia sukses dengan program mandatori biodiesel B10 hingga B30? Strategi itulah yang kini “di-copy-paste” untuk menyelamatkan devisa negara dari impor aspal. Pemerintah akan segera meluncurkan program A30, sebuah terobosan mandatori penggunaan campuran aspal murni dengan 30 persen kandungan Aspal Buton (Asbuton).

“Proses harmonisasi regulasi sudah berjalan, mudah-mudahan satu-dua minggu ke depan selesai. Kontraktor bisa mengerjakan ini dengan mudah tanpa perlu modifikasi besar pada asphalt mixing plant,” ungkap Dody Hanggodo di Jakarta, Jumat (17/4/2026). Artinya, teknologi ini sangat ramah bagi pelaku industri lokal karena tidak memerlukan investasi alat baru yang mahal.

Harta Karun 662 Juta Ton: Ketahanan Infrastruktur Ratusan Tahun

Data dari Sistem Informasi Material dan Peralatan Konstruksi (SIMPK) Kementerian PU memaparkan angka yang bikin melongo. Cadangan Asbuton di Pulau Buton mencapai 662 juta ton! Dengan deposit raksasa ini, Indonesia sebenarnya punya cukup material untuk membangun jalan hingga ratusan tahun ke depan tanpa perlu melirik aspal minyak dari luar negeri.

Namun, fakta lapangan selama ini sangat ironis. Meski punya stok melimpah, pemanfaatan aspal asli Indonesia ini baru menyentuh angka 40.000 hingga 50.000 ton per tahun. Kontras sekali dengan angka impor yang mencapai jutaan ton dan terus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pangkas Biaya Hingga 30 Persen: Solusi di Tengah Keterbatasan Fiskal

Bagi Anda yang peduli dengan ekonomi negara, program A30 ini adalah kabar gembira. Penggunaan campuran kandungan lokal ini diproyeksikan mampu memangkas biaya input pengadaan aspal hingga 30 persen. Penghematan ini sangat krusial karena saat ini anggaran negara harus berbagi fokus antara pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, hingga renovasi fasilitas publik.