finnews.id – Kabar membanggakan datang dari sektor ekonomi kerakyatan kita. Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa program UMKM BISA (Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor) berhasil mencetak nilai transaksi fantastis sebesar 23,60 juta dolar AS atau setara Rp404,5 miliar hanya dalam triwulan I 2026.
Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa produk lokal kita semakin mendapat tempat di hati konsumen dunia. Pemerintah menilai strategi penjajakan bisnis yang lebih terarah menjadi kunci utama keberhasilan para pelaku usaha menembus pasar internasional.
Strategi Jitu Menembus Pasar Global
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan bahwa daya saing UMKM Indonesia kini semakin tangguh. Kemendag berkomitmen untuk tidak sekadar memberikan akses, tetapi juga pendampingan yang berkelanjutan.
“Capaian UMKM BISA Ekspor pada Triwulan I-2026 ini menunjukkan pelaku UMKM kita memiliki daya saing yang semakin kuat di pasar internasional. Kemendag akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi, serta memastikan UMKM mendapatkan pendampingan yang tepat agar mampu berkelanjutan di pasar ekspor,” ujar Budi dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Data dan Fakta Transaksi Triwulan I
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), total transaksi tersebut merupakan gabungan dari dua skema utama:
-
Nota Kesepahaman (MoU): Mencapai 19,64 juta dolar AS.
-
Pesanan Pembelian (Purchase Order/PO): Sebesar 3,96 juta dolar AS.
Kesuksesan ini melibatkan 396 UMKM melalui 170 kegiatan business matching. Para pembeli (buyer) yang berhasil digaet berasal dari negara-negara besar seperti Jepang, Jerman, Inggris, Belanda, Arab Saudi, hingga Kanada.
Produk Unggulan yang Diminati Dunia
Pasar global rupanya sangat meminati keberagaman produk asal Indonesia. Beberapa sektor yang paling banyak dicari meliputi:
-
Olahan boga bahari dan perikanan.
-
Dekorasi rumah (home decor) dan furnitur.
-
Kesehatan, perawatan tubuh, dan kosmetik.
-
Rempah-rempah, produk pertanian, serta makanan dan minuman.
-
Fesyen, kakao, kertas, produk kelapa, hingga produk herbal.
Direktur Jenderal PEN, Fajarini Puntodewi, menambahkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memastikan konsistensi produksi. “Kami tidak hanya mempertemukan UMKM dengan buyer, tetapi juga memastikan kesiapan produk, kualitas, dan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar global secara konsisten,” jelasnya.
Melalui ekosistem yang terintegrasi ini, pemerintah optimis lebih banyak lagi pelaku usaha kecil yang bisa “naik kelas” dan bersaing di kancah global sepanjang tahun 2026.