Sementara itu, Thailand memang menghadapi tantangan perlambatan ekonomi, namun negeri Gajah Putih ini memiliki kebijakan moneter dan posisi eksternal yang kuat. Begitu juga dengan Vietnam yang dinilai memiliki bantalan ekonomi memadai, meskipun mereka tetap harus waspada terhadap penurunan cadangan devisa jika biaya impor energi terus membumbung tinggi dalam waktu lama.
Skenario S&P: Harga Minyak Brent Bertahan di USD85 per Barel
Dalam proyeksi dasarnya, S&P mengasumsikan intensitas perang Iran akan mencapai puncaknya pada bulan April ini, termasuk meredanya penutupan Selat Hormuz sebagai jalur logistik energi dunia. Namun, risiko kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah tetap membayangi. S&P memprediksi harga minyak mentah Brent akan berada pada rata-rata USD85 per barel hingga sisa tahun 2026.
Meskipun skenario ini terlihat moderat, ketidakpastian tetap menghantui. Perubahan sekecil apa pun di Timur Tengah bisa mengacak-acak prediksi ini. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia menjadi sangat krusial untuk memastikan peringkat utang tetap terjaga di level aman.
Waspada Dampak ke Suku Bunga dan Pasar Modal
Bagi Anda para investor, peringatan S&P ini adalah sinyal untuk tetap waspada. Kenaikan biaya pinjaman pemerintah biasanya akan diikuti oleh kenaikan bunga kredit perbankan, yang bisa menekan daya beli dan laba korporasi. Pastikan Anda selalu memantau perkembangan geopolitik dan langkah pemerintah dalam mengelola subsidi energi agar portofolio investasi Anda tetap aman di tengah badai ketidakpastian global. (*)