Hingga Jumat (10/4/2026), otoritas setempat belum bisa membuka Selat Hormuz secara penuh. Masalahnya sepele tapi fatal: menyingkirkan ranjau laut jauh lebih sulit daripada memasangnya! Baik Iran maupun Amerika Serikat ternyata tidak punya kemampuan membersihkan ranjau dengan cepat. Jadi, selama ranjau-ranjau sisa perang itu belum ketemu, risiko kapal tenggelam akibat ledakan masih menghantui setiap pelayaran.
Kabar Terbaru Pertamina Pride dan Gamsunoro: Masih di Teluk Persia!
Bagaimana dengan kondisi fisik kapal kita? Berdasarkan data pelacak Vessel Finder per Sabtu sore, dua raksasa laut yang beroperasi untuk Pertamina memang masih berada di wilayah Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride tercatat sedang berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi. Sementara itu, saudaranya, kapal Gamsunoro, terdeteksi masih bertahan di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa pemerintah Iran sebenarnya memberikan respons positif terhadap permintaan Indonesia. Namun, aspek teknis dan operasional di lapangan masih sangat rumit. Perwakilan RI di Teheran terus bekerja keras agar kapal-kapal ini bisa melintas dengan aman tanpa harus terkena dampak konflik militer yang sedang berlangsung.
Belum Ada Kepastian Kapan Kapal Bisa Keluar
Meski ada sinyal positif dari Teheran, belum ada satu pun pihak yang berani menjamin kapan pastinya kapal tanker Pertamina bisa keluar dari Selat Hormuz. Negosiasi masih terus berjalan di tengah ancaman ranjau laut yang belum tuntas dibersihkan. Situasi ini menuntut kesabaran ekstra sekaligus langkah diplomasi yang taktis dari pemerintah Indonesia agar aset negara tetap terlindungi.
Bagi kita di Indonesia, tetap stabilnya pasokan energi tentu menjadi harapan utama. Mari kita kawal terus perkembangan diplomasi ini, karena stabilitas di Selat Hormuz adalah kunci utama agar roda ekonomi nasional tetap berputar tanpa hambatan energi!
Status Terakhir Kapal Tanker Pertamina:
- Pertamina Pride: Berada di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi.
- Gamsunoro: Berada di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.
- Protokol: Wajib negosiasi dengan otoritas keamanan Iran.
- Kendala: Risiko ranjau laut dan situasi militer yang dinamis. (*)