Kemenkes: Tidak Ada Unsur Penculikan, Hanya Kesalahpahaman

Kementerian Kesehatan turut memberikan penjelasan terkait kejadian ini. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut bahwa insiden tersebut murni kesalahpahaman.

Ia menjelaskan bahwa saat itu Nina menitipkan bayinya kepada tenaga kesehatan ketika mengurus administrasi.

“Dan tenaga kesehatan di situ kan memang tugasnya tidak hanya menangani bayi secara khusus, dia di poli anak dan memang akhirnya pekerjaannya pun jadi agak terganggu dengan anda penitipan tersebut,” katanya.

Ketika Nina kembali, tenaga kesehatan tersebut diduga lupa atau terjadi kekeliruan sehingga bayi sempat diberikan kepada orang lain.

“Jadi tidak ada maksud untuk hal-hal di luar itu, yang ada penculikan atau kejahatan, itu tidak ada maksud itu, memang itu sebenarnya kekhilafan saja yang terjadi dari perawat di sana,” katanya.

Aji menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi penting agar prosedur operasional standar (SOP) dijalankan secara lebih disiplin. Ia juga mengingatkan pasien agar tidak sembarangan menitipkan bayi.

“Memang ada sedikit kesalahpahaman saja di lapangan dan ini sudah diselesaikan. Bahkan sudah dilaporkan ke Pak Gubernur juga, Gubernur Jawa Barat dan dia sudah apresiasi juga apa yang sudah kami lakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin,” ujarnya.

Evaluasi dan Pembelajaran untuk Pelayanan Kesehatan

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak, baik tenaga medis maupun pasien. Rumah sakit perlu memastikan setiap prosedur berjalan sesuai standar, sementara keluarga pasien juga harus lebih berhati-hati.

Dengan evaluasi menyeluruh yang dilakukan RSHS Bandung, diharapkan kejadian serupa tidak terulang dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan tetap terjaga.