finnews.id – Fenomena kecantikan kembali menghebohkan media sosial.
Para beauty influencer hingga pengguna platform digital kini ramai mencoba tren “menstrual masking”, yaitu praktik mengoleskan darah haid ke wajah sebagai masker.
Meski dianggap menarik perhatian karena sifatnya yang ekstrem, tren ini semakin viral karena klaim manfaat kulit glowing yang dikampanyekan sebagian influencer.
Tren tersebut diberitakan viral pada Sabtu, 22 November 2025, setelah banyak unggahan yang memperlihatkan individu mengoleskan darah menstruasi mereka sendiri ke kulit wajah, membiarkannya beberapa menit, lalu membilasnya seperti masker biasa.
Karena ini adalah tren berbasis inisiatif warganet, tidak ada prosedur medis atau standar kesehatan yang mengatur praktik tersebut.
Klaim Pendukung: Kaya Sel Punca dan Protein Regeneratif
Pendukung menstrual masking percaya darah menstruasi mengandung komponen biologis bernilai tinggi, seperti:
Sel punca (MenSCs)
Sitokin
Protein bioaktif
Komponen ini dianggap mampu merevitalisasi kulit, meningkatkan produksi kolagen, dan membuat wajah tampak lebih cerah.
Sebuah studi dari Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) memang menemukan bahwa plasma dalam cairan menstruasi memiliki potensi membantu penyembuhan jaringan.
Dalam uji laboratorium, plasma tersebut menunjukkan tingkat penyembuhan luka hingga 100 persen dalam 24 jam, jauh lebih tinggi dari plasma darah biasa yang hanya mencapai 40 persen.
Peneliti menilai kemampuan ini dipengaruhi sifat regeneratif yang secara alami membantu rahim memperbaiki dirinya setiap bulan.
Dibandingkan dengan ‘Vampire Facial’, Tapi Ahli Medis Tegas Menolak
Sebagian influencer membandingkan menstrual masking sebagai versi DIY dari vampire facial, yaitu prosedur kecantikan yang menggunakan plasma kaya trombosit (PRP).
Metode PRP pernah viral secara global setelah dibagikan oleh Kim Kardashian.
Namun para ahli medis menegaskan bahwa perbandingan ini tidak tepat.
PRP dilakukan melalui:
proses medis steril
pengambilan darah profesional
pemisahan plasma menggunakan alat khusus
prosedur keamanan yang diawasi tenaga kesehatan
Sementara itu, darah menstruasi tidak steril dan dapat mengandung mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan infeksi.
Risiko Medis: Bakteri, Jamur, hingga Potensi Infeksi Menular Seksual
Meski populer, tren ini membawa risiko kesehatan yang serius.
Darah menstruasi dapat mengandung:
Bakteri seperti Staphylococcus aureus, yang dapat memicu infeksi kulit berat jika terserap melalui pori atau luka mikro
Jamur
Patogen lainnya, termasuk potensi infeksi menular seksual (IMS)
Mengoleskan cairan tubuh yang tidak steril ke wajah terutama jika kulit memiliki jerawat pecah, luka kecil, atau iritasi dapat memicu infeksi yang jauh lebih parah daripada jerawat biasa.
Tren Menstrual Masking
Tren ini semakin meluas karena banyak beauty influencer yang mencoba dan membagikan pengalaman mereka.
Mereka mengklaim kulit tampak lebih glowing, tekstur membaik, dan wajah terlihat lebih sehat.
Namun hingga kini, tidak ada uji klinis yang memvalidasi klaim tersebut, dan para ahli terus mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap praktik DIY skincare yang berpotensi membahayakan.
Viral Tidak Selalu Aman
Menstrual masking mungkin tengah menjadi pembicaraan hangat, namun tren ini tetap menuai kontroversi.
Meski ada temuan ilmiah terkait manfaat biologis sel punca dalam konteks medis terkontrol, penggunaannya secara topikal sembarangan tidak memiliki bukti ilmiah yang cukup dan berisiko besar bagi kesehatan kulit.