Home Ekonomi RUPIAH BABAK BELUR! 1 Ringgit Malaysia= Rp 4.011, Apa yang Terjadi dengan Ekonomi Indonesia?
Ekonomi

RUPIAH BABAK BELUR! 1 Ringgit Malaysia= Rp 4.011, Apa yang Terjadi dengan Ekonomi Indonesia?

Bagikan
1 Ringgit Malaysia= Rp 4.011
1 Ringgit Malaysia= Rp 4.011
Bagikan

Selain faktor domestik, pemulihan sektor ekspor elektronik dan otomotif, serta stabilitas politik pasca Pemilu 2024, turut memberi efek positif bagi sentimen pasar.

Hal ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang masih menghadapi tantangan defisit transaksi berjalan dan ketergantungan impor energi.

Pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). The Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi (high for longer).

Hal ini membuat investor global lebih memilih menaruh dana di aset berdenominasi dolar, dibandingkan di pasar berkembang seperti Indonesia.

Akibatnya, aliran modal keluar (capital outflow) terjadi dari pasar obligasi dan saham domestik. Sehingga memperlemah posisi rupiah di berbagai pasangan mata uang. Termasuk terhadap ringgit.

Kondisi ini semakin diperburuk oleh naiknya harga minyak mentah dunia, yang menambah beban impor energi Indonesia dan memperlebar defisit neraca perdagangan.

Selama tekanan dari The Fed belum mereda dan harga minyak masih tinggi, rupiah sulit menguat stabil.

Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat

Meski melemah terhadap ringgit, banyak analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid.

Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 4,8–5%, inflasi terkendali di bawah 3%, dan cadangan devisa tetap kuat di atas US$130 miliar.

Namun, investor global menilai perbedaan laju pertumbuhan dan produktivitas antara Indonesia dan Malaysia menjadi faktor utama yang membuat ringgit lebih menarik.

Selain itu, Malaysia berhasil menarik investasi asing langsung (FDI) lebih besar di sektor manufaktur dan teknologi hijau, sedangkan Indonesia masih didominasi sektor komoditas.

Pelemahan rupiah terhadap ringgit bukan sekadar angka di layar. Dampaknya terasa langsung di lapangan. Terutama bagi sektor pariwisata, ekspor-impor, dan pekerja migran.

  1. Wisatawan Indonesia ke Malaysia kini harus merogoh kocek lebih dalam karena nilai tukar yang tinggi.
  2. Importir bahan baku dari Malaysia menghadapi peningkatan biaya produksi.
  3. Sebaliknya, pekerja migran Indonesia (TKI) di Malaysia diuntungkan karena pengiriman uang ke tanah air kini bernilai lebih besar dalam rupiah.

Bagikan
Artikel Terkait
PMI-BI Triwulan I 2026 melesat ke 52,03%! Industri kertas, alas kaki, dan makanan jadi motor utama. Simak proyeksi ekonomi manufaktur RI selanjutnya.
Ekonomi

Lampu Hijau Ekonomi! Sektor Manufaktur RI Ngamuk di Awal 2026, Siap-Siap Kebanjiran Pesanan?

Nggak cuma itu, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki juga...

Bank Indonesia catat kinerja dunia usaha Triwulan I 2026 tetap tangguh! SBT tembus 10,11%, sektor pertanian & tambang siap melesat di triwulan depan.
Ekonomi

Jangan Sampai Ketinggalan! Dunia Usaha RI 2026 Masih On Track, Sektor-Sektor Ini Bakal Cuan Gede?

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta industri pengolahan menjadi pemain kunci yang...

Ekonomi

Katalog Promo Superindo Hari Ini 17 April 2026: Diskon Bahan Segar, Pas untuk Stok Dapur

Satu penawaran yang tidak boleh pelanggan lewatkan adalah promo unik “Ambil dan...

Ekonomi

Okupansi Hotel Turun Hingga 30%, Pengusaha Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Efisiensi Anggaran

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan penerbangan internasional, ikut menekan jumlah...