finnews.id – Perusahaan raksasa kimia asal Jerman, Lanxess, memprediksi harga minyak dunia akan tetap bertahan di level tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Lonjakan biaya energi ini menjadi tantangan serius bagi industri kimia global, terutama setelah konflik di Timur Tengah mengganggu stabilitas pasar bahan bakar dan ketersediaan bahan baku.
CEO Lanxess, Matthias Zachert, mengungkapkan bahwa fluktuasi pasar saat ini memaksa perusahaan untuk mengambil langkah strategis guna menjaga keberlangsungan bisnis.
“CEO Matthias Zachert mengatakan perusahaan memperkirakan harga minyak akan tetap berada di kisaran $100 hingga $110 per barel selama beberapa bulan ke depan, menambahkan bahwa Lanxess bertujuan untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut melalui kenaikan harga,” lapor perusahaan tersebut pada Kamis, 7 April 2026.
Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Sektor Kimia
Ketegangan militer di Timur Tengah telah mengubah peta daya saing industri kimia dunia. Menariknya, Zachert mencatat bahwa tekanan dari pesaing asal Tiongkok di pasar Eropa mulai menunjukkan tren penurunan. Hal ini terjadi karena kenaikan harga energi memberikan dampak yang lebih signifikan bagi produsen di Asia dibandingkan di Eropa.
Meskipun demikian, situasi pasar tetap sangat bergantung pada kondisi geopolitik di wilayah tersebut. Stabilitas harga minyak sangat fleksibel terhadap isu perdamaian maupun potensi eskalasi militer lebih lanjut.
“Ini dapat berubah jika ada kecenderungan yang lebih kuat menuju perdamaian atau dapat berubah menjadi lebih buruk jika eskalasi di sisi militer terjadi lagi. Namun demikian, target kami yang jelas adalah untuk meneruskan hal itu melalui kenaikan harga, meskipun harga minyak tinggi,” tambah Zachert.
Pergeseran Dinamika Ekspor Tiongkok ke Eropa
Selama setahun terakhir, produsen kimia Eropa harus berjuang menghadapi gempuran ekspor dari Tiongkok. Ketegangan perdagangan global sebelumnya membuat pasar Eropa tampak lebih menggiurkan bagi eksportir Asia ketimbang pasar Amerika Serikat.
Namun, Zachert menekankan bahwa dinamika ini sekarang tengah bergeser. Konflik di Timur Tengah secara otomatis mengubah biaya energi relatif dan mempengaruhi tingkat daya saing antar wilayah. Dengan estimasi harga minyak yang bertengger di kisaran $100-$110 per barel, industri kimia harus bersiap dengan skenario penyesuaian harga demi menutupi beban produksi yang membengkak.