Home Uncategorized Begini Komen Apindo Soal Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen 
Uncategorized

Begini Komen Apindo Soal Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen 

Bagikan
Ekonomi RI kuartal II-2026 diprediksi melambat ke 5,1-5,3%. Tekanan minyak, rupiah, dan manufaktur jadi faktor utama.
Ilustrasi - Pertumbuhan ekonomi (Pexels - Kindel Media)
Bagikan

finnews.id – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026 belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha.

Menurutnya, meskipun angka tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi domestik, dampaknya terhadap aktivitas bisnis riil masih belum merata, terutama di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi.

“Dunia usaha saat ini menghadapi kondisi asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya tidak terdistribusi merata, sementara biaya terus meningkat,” ujar Shinta di Jakarta, Rabu.

Tekanan Biaya dan Pelemahan Rupiah Jadi Tantangan

Salah satu faktor utama yang menekan dunia usaha adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Sepanjang triwulan I 2026, rupiah terdepresiasi dari kisaran Rp16.800 menjadi mendekati Rp17.400 per dolar AS.

Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Akibatnya, margin keuntungan tergerus dan ruang ekspansi usaha menjadi semakin terbatas.

Bagi banyak pelaku usaha, situasi ini menciptakan tekanan berlapis: biaya meningkat, namun daya beli dan distribusi manfaat pertumbuhan belum optimal.

Sektor Konsumsi Tumbuh Pesat, Manufaktur Justru Melemah

Dari sisi struktur pertumbuhan, sektor berbasis konsumsi domestik menjadi yang paling diuntungkan. Beberapa sektor dengan pertumbuhan tertinggi antara lain:

  • Akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen
  • Transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen
  • Jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 7,62 persen
  • Perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,26 persen

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, terutama selama periode libur panjang.

Namun di sisi lain, sektor manufaktur justru mengalami kontraksi sebesar 1,01 persen. Padahal, sektor ini merupakan tulang punggung industri nasional dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pertumbuhan Belum Merata, Dunia Usaha Tertekan

Shinta menegaskan, meskipun secara agregat data Produk Domestik Bruto (PDB) terlihat solid, kondisi di lapangan menunjukkan banyak pelaku usaha masih menghadapi tekanan, khususnya dalam bentuk penyusutan margin keuntungan (margin compression).

Hal ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif dan merata di seluruh sektor.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
PMI-BI Triwulan I 2026 melesat ke 52,03%! Industri kertas, alas kaki, dan makanan jadi motor utama. Simak proyeksi ekonomi manufaktur RI selanjutnya.
Uncategorized

PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Industri Tertekan Biaya Tinggi dan Permintaan Melemah

finnews.id – Kinerja sektor industri nasional kembali mendapat tekanan setelah Purchasing Managers’...

Guru
Uncategorized

Guru Non-ASN Akan Dirumahkan 2027? Ini Penjelasan Resmi Kemendikdasmen

finnews.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membantah kabar yang menyebut guru...

Uncategorized

VVIP Selamanya?

Jangan dihitung nilai ekonominya: Bandara Nusantara di IKN. Nama resminya: Bandara VVIP...

Uncategorized

Kemendikdasmen Rilis Logo Hardiknas 2026: Simak Makna Filosofis dan Link Unduhnya

finnews.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan logo dan...