Oleh: Dahlan Iskan
Saya ke Universitas Indonesia pagi ini –setelah kemarin sore ke Universitas Paramadina.
Di UI ada rekan wartawan meraih gelar doktor: disertasinya mengenai Kusni Kasdut.
Di Paramadina, yang tahun ini mulai membuka program doktor, ada diskusi tentang krisis dan manajemen krisis.
Fajar Kurniawan, wartawan itu, mencari saya sampai ke tempat senam dansa: minta saya jadi salah satu penguji dari luar universitas.
Pada awalnya saya menolak: saya tidak ahli di bidang ilmu yang jadi objek penelitian: ilmu sejarah. Tapi Fajar mengajukan alasan: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr Untung Yuwono memutuskan nama saya yang disetujui. Demikian juga promotor Fajar, Prof Dr R. Tuty Nur Mutia.
Alasan mereka: sayalah wartawan yang pernah mewawancarai Kusni Kasdut. Yakni saat tokoh itu tinggal di penjara Kalisosok Surabaya –menunggu hukuman matinya dilaksanakan.
Itu sudah lama sekali. Tahun 1979-an. Saya masih jadi wartawan junior di Majalah Tempo –untuk daerah liputan Jatim. Sebagai wartawan yang baru pindah dari Samarinda saya tidak tahu siapa Kusni Kasdut. Yusril Jalinus, koordinator liputan Tempo di Jakarta yang menugasi.
Saya begitu takut tidak berhasil masuk penjara. Apalagi harus menemui Kusni Kasdut yang dijaga ekstra ketat. Ia terkenal sebagai narapidana yang sering kabur dan lolos dari penjagaan.
Saya sudah lupa teknik apa yang saya gunakan saat itu. Intinya: saya berhasil masuk ke sel Kusni Kasdut. Wawancara. Memotretnya.
Beberapa bulan kemudian Kusni Kasdut dieksekusi. Di pagi menjelang subuh tanggal 16 Februari 1980, Kusni menghadapi regu tembak. Lokasi eksekusinya di pepohonan di daerah tambak antara Surabaya-Gresik.
Yang diteliti oleh Fajar adalah: Apakah Kusni Kasdut bisa dikategorikan sebagai bandit sosial –sebagaimana citra yang berhasil disandang oleh Robin Hood. Atau kalau untuk ukuran lokal bisa disejajarkan dengan bandit sosial Betawi: si Pitung.
Kesan Fajar: Kusni Kasdut memang sempat berhasil dicitrakan sebagai Robin Hood-nya Indonesia. Tetapi sebagai wartawan militan, Fajar curiga kesan bandit sosial untuk Kusni Kasdut itu lebih banyak karena framing media. Itulah yang lantas diteliti Fajar sampai berhasil menyusun disertasi untuk gelar doktornya pagi ini.