Oleh: Dahlan Iskan
Jalan tol ke IKN sudah bisa dilewati: di hari raya Idulfitri yang lalu. Lantas ditutup lagi. Belum sepenuhnya selesai. Masih ada beberapa ruas yang masih berupa tanah bukit.
Saya memang baru sempat beridulfitri ke kampung istri di Kaltim Selasa lalu: boleh melewatinya. Dari bandara Sepinggan, Balikpapan, saya lebih dulu lewat jalan lama ke arah Manggar. Di sana ada mulut tol Balikpapan-Samarinda.
Sebelum mulut tol itu seharusnya saya mampir ke sebuah rumah baru yang setengah tahun terakhir mendadak terkenal: Rumah Singgah Harum.
Harum sendiri singkatan dari Haji Rudy Mas’ud.
Kata Harum dipopulerkan sejak menjelang pileg lebih 10 tahun lalu. Yakni ketika Harum mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Nama Harum terus dikibarkan menjelang Pilgub Kaltim: terpilih (Lihat Disway: Orang Kuat).
Nama rumah itu, di internet, disebut Harum Resort. Anda bisa bermalam di sana. Harum sendiri sering menerima tamu VIP di rumah singgahnya itu.
Harum orang sangat kaya. Kalau membangun bisa cepat. Biar pun mulai dibangun setelah dilantik sebagai gubernur Kaltim, kini sudah jadi. Arsitekturnya menarik. Halaman belakangnya yang luas terasa lebih luas karena gandeng dengan laut.
Saya tidak jadi singgah di Rumah Singgah. Saya buru-buru masuk mulut tol arah Samarinda.
Di kilometer 11 ada exit untuk ke jalan umum menuju kawasan industri lama –yang belum banyak pabriknya. Tidak sampai lima kilometer dari exit terlihat jalan tol yang belum selesai. Mobil kami dapat izin khusus masuk tol lewat akses sudetan.
Jalan tol ini unik: ada dua jembatan melintang yang di atasnya ditumbuhi rumput yang lebat.
“Itu jembatan penyeberangan satwa,” ujar Rizal Effendy yang menemani saya.
Anda sudah tahu siapa Rizal. Ia wali kota Balilpapan dua periode yang sangat populer. Sebelum itu Rizal menjabat wakil wali kota –sebelumnya lagi pemimpin redaksi Kaltim Post.
Saya pun melihat kanan-kiri tol. Memang masih hutan. Di kawasan itu program penyelamatan orang utan dilakukan. Anda sudah tahu proyek itu: dimulai di zaman Orde Baru. Selain orang utan, juga ada satwa endemik Kalimantan lainnya: rusa, beruang madu, bekantan, dan macan dahan.
Sampai melewati kolong jembatan satwa kedua saya tidak melihat ada orang utan yang menyeberang jembatan. Mungkin karena saya lewat di situ di saat jam makan siang.
Setelah jembatan satwa jalan tol sampai ke jembatan panjang. Kembar. Indah. Terlihat dari jauh. Saya ingin memotret jembatan itu. Tunggu. Biar posisi mobil lebih dekat jembatan.
Ups….tidak bisa memotret. Terhalang bangunan loket tol. Sudah pasti: loket tol itu seharusnya tidak boleh dibangun di situ. Kasihan indahnya arsitektur jembatan. Itulah jembatan Sungai Balang.
Sebetulnya itu bukan sungai. Itu teluk yang amat dalam: Teluk Balikpapan. Memang ada sungai pendek di ‘tenggorokan’ teluk itu: sungai Balang. Tapi saya pilih menyebut air di bawah jembatan itu tenggorokannya Teluk Balikpapan.
Tidak jauh dari jembatan itu kami harus keluar tol. Di depan sana jalan tolnya belum dibangun. Kami pun kembali ke jalan raya yang lama. IKN tidak terlalu jauh dari situ: setengah jam lagi kami sampai.
“Di mana pohon yang pernah minum air seni saya dulu?”
“Kawasan itu sudah jadi gedung kantor pusat otorita IKN,” ujar Rizal yang kala itu juga menemani saya ke IKN.
Dari jauh memang terlihat bangunan modern di puncak gundukan bukit. Di situlah Ketua Otorita IKN Basuki Hadimuljono, berkantor.
“Kita lihat istana dulu, makan siang dulu, atau ke masjid dulu?” tanya saya.
“Ke masjid,” jawab Rizal.
Maka di persimpangan sebelum kantor pusat itu kami belok kanan. Jalannya bagus. Dua jalur dua lajur. Mulus. Kanan kiri jalan masih gersang.
Tak lama kemudian terlihatlah Masjid Negara. Menaranya satu: lambang keesaan. Juga lambang penghematan.
Kami salat duhur. Di lantai satu. Masjidnya sendiri di lantai tiga. Masjid ini seperti jalan tol: dibuka saat Idulfitri, ditutup lagi setelahnya.
“Waktu Idulfitri saya salat di masjid ini,” ujar Rizal.
“Berangkat dari Balikpapan jam berapa?”
“Jam empat pagi,” jawabnya.
Resminya Masjid Negara itu berkapasitas 60.000 orang. Sedikit di bawah Istiqlal Jakarta. Tapi saya tidak percaya itu. Rasanya maksimal hanya bisa untuk salat 6.000 orang. Entah kelak –kalau, misalnya, diperluas.
Lantaran masjid di lantai tiga masih diperbaiki, kami salat duhur di lantai dasar. Karpet dan mihrabnya dibuat seperti masjid permanen. Padahal lantai dasar itu awalnya untuk ruang serbaguna –misalnya untuk kawinan atau seminar besar.
Rasanya perbaikan masjid ini memakan waktu lama. Perkiraan saya sendiri akan memakan waktu dua tahun: kalau hasilnya mau bagus. Perbaikannya pun harus total. Utamanya finishingnya. Agar tidak lagi kasar seperti bangunan asal-asalan.
Pun tempat wudunya. Sangat tidak mencerminkan Masjid Negara.
Tempat wudunya jangan dibandingkan dengan Masjid Jokowi di Solo –yang dibangun dengan dana dari Sultan Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), presiden Uni Emirat Arab.
Jaraknya langit dan bumi –mungkin lebih jauh lagi: langit dan sumur.
Apalagi kalau dibandingkan dengan Masjid Al Jabbar di Jabar –tepatnya di Bandung. Kalah jauh. Jangan-jangan kalah juga dibanding Masjid Raya di Islamic Center Samarinda.
Mungkin setelah perbaikan kelak akan berubah total. Mungkin juga tidak. Dengan begini saja sudah banyak pengunjung yang puas –karena mungkin belum pernah melihat Masjid Jokowi di Solo.
“Sebagai orang yang merancang masjid itu apakah Anda tidak ikut mengawasi finishing-nya?,” tanya saya pada Nyoman Nuarta, arsitek yang juga memenangkan desain Istana Garuda IKN.
“Parah,” jawab Nyoman Nuarta. Rupanya ia juga sangat tidak.puas. “Saya tidak ikut mengawasi,” tambahnya.
Sebenarnya ini salah saya: mengapa ke IKN sekarang. Tidak, misalnya, tiga tahun lagi, setelah perbaikan dilakukan.
Setelah salat duhur saya disapa lima anak muda bersorban rapi dan bersih. Mereka adalah imam dan khotib Masjid Negara. Ada yang dari Istiqlal Jakarta, ada juga yang dari Balikpapan dan Makassar. Mereka lolos seleksi yang dilakukan di Istiqlal.
“Itu bangunan apa?” tanya saya saat melihat-lihat belakang masjid.
“Itu gereja Katolik,” ujar seorang petugas masjid. Tidak ada yang istimewa. “Tapi kalau dilihat dari atas berbentuk salib,” katanya.
Gereja ini juga baru sekali dipakai misa –dalam rangkaian Paskah kemarin.
Kelak akan dibangun juga gereja Protestan, vihara Buddha, klenteng Konghucu, dan pura Hindu. Semua di satu kawasan seluas 36 hektare ini.
Masjid Negara kelihatannya dikerjakan dengan cara ”kejar tayang”. Tapi salat di situ atau di masjid MBZ maupun di Masjid Al Jabbar sebenarnya sama saja: sama-sama jauh dari langit.(Dahlan Iskan)