finnews.id – Pasar keuangan global kembali diguncang sentimen panas dari Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan militer di Selat Hormuz langsung menekan bursa saham global, termasuk potensi pergerakan IHSG hari ini.
Pada perdagangan pagi Selasa (5/5/2026), sinyal pelemahan semakin terlihat. Bursa Asia dibuka di zona merah setelah Wall Street ditutup turun, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik yang bisa mengganggu rantai pasok energi global.
Harga Minyak Melonjak Tajam, Sentimen Risiko Meningkat
Harga minyak Brent melonjak signifikan hingga 5,8% ke level USD114 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah militer Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terlibat kontak senjata di perairan strategis Selat Hormuz.
Insiden tersebut mengancam kelangsungan gencatan senjata yang telah berlangsung selama empat minggu terakhir. Situasi ini membuat pelaku pasar mulai mengantisipasi risiko gangguan distribusi minyak global, yang berdampak langsung pada lonjakan harga energi.
Kondisi ini juga meningkatkan kekhawatiran inflasi global, karena kenaikan harga energi biasanya akan merembet ke berbagai sektor ekonomi.
Bursa Global Terseret, Asia Ikut Melemah
Indeks saham utama di Amerika Serikat, S&P 500, ditutup turun 0,4% pada perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut berlanjut ke kawasan Asia, di mana indeks ASX200 Australia dibuka melemah 0,6% pagi ini.
Tak hanya itu, indeks iShares MSCI Indonesia (EIDO) juga mencatatkan penurunan tajam sebesar 1,6% pada perdagangan dini hari. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif investor global terhadap aset-aset berbasis Indonesia.
Harga Emas Turun, Sinyal Kebijakan Moneter Makin Ketat
Di tengah lonjakan harga minyak, harga emas justru mengalami koreksi sebesar 2,1% dan mendekati level USD4.500 per troy ounce. Penurunan ini terjadi karena pasar mulai mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral global.
Inflasi yang berpotensi meningkat akibat mahalnya energi dapat mendorong bank sentral mengambil langkah hawkish, seperti menaikkan suku bunga atau mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
IHSG Berpotensi Tertekan, Rupiah Ikut Jadi Sorotan
Dengan kombinasi sentimen global tersebut, IHSG diperkirakan akan kembali berada di bawah tekanan. Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada inflasi, tetapi juga berpotensi memperlebar defisit anggaran Indonesia.
- analisis pasar saham Indonesia terbaru pagi ini
- dampak konflik Timur Tengah terhadap IHSG hari ini
- ekonomi Indonesia
- harga minyak dunia
- IHSG
- Inflasi Global
- Investasi
- konflik Timur Tengah
- pasar saham global
- PDB Indonesia
- pengaruh harga minyak ke inflasi global dan rupiah
- penyebab harga minyak naik drastis 2026
- prospek IHSG di tengah geopolitik global
- Rupiah
- saham emiten