Home Market IHSG Terancam Lanjut Melemah, Harga Minyak Meledak & Konflik Hormuz Picu Kekhawatiran Global
Market

IHSG Terancam Lanjut Melemah, Harga Minyak Meledak & Konflik Hormuz Picu Kekhawatiran Global

Bagikan
Harga minyak melonjak akibat konflik Hormuz, IHSG terancam melemah. Simak analisis pasar global dan prospek ekonomi Indonesia.
Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Bagikan

Situasi ini bisa menekan nilai tukar rupiah, sehingga menambah beban bagi pasar domestik. Meski demikian, ada pandangan yang lebih optimistis terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Lembaga internasional menilai Indonesia masih termasuk negara dengan stabilitas makroekonomi yang relatif kuat di tengah gejolak global akibat konflik Timur Tengah.

Menanti Data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q1 2026

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026. Konsensus memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,25% secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan ini didorong oleh efek basis rendah pada kuartal pertama tahun sebelumnya, serta peningkatan konsumsi rumah tangga selama periode Lebaran 2026 yang jatuh di awal tahun.

Jika realisasi data sesuai ekspektasi atau lebih tinggi, sentimen positif ini berpotensi menahan tekanan terhadap pasar saham domestik.

Kinerja Emiten Jadi Sorotan, Ini Rinciannya

ASII: Laba Turun, Tapi Valuasi Masih Menarik

ASII mencatat laba inti sebesar Rp6,4 triliun pada kuartal I 2026, turun 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipicu lemahnya kinerja segmen otomotif serta beban satu kali di lini bisnis alat berat.

Meski begitu, segmen jasa keuangan masih tumbuh 6% dan menjadi penopang. Dengan valuasi sekitar 8,3 kali P/E 2026, saham ini dinilai masih menarik di kisaran historisnya.

UNTR: Laba Anjlok, Terseret Kerugian Segmen Emas

UNTR membukukan laba Rp643 miliar atau turun 80% secara tahunan. Penurunan tajam ini disebabkan oleh kerugian Rp1,4 triliun di segmen emas, penurunan nilai aset, serta melemahnya penjualan alat berat.

Outlook ke depan masih dibayangi berbagai tantangan, termasuk pemotongan produksi tambang. Namun valuasi 7 kali P/E 2026 masih tergolong atraktif.

MEDC: Laba Melejit, Didorong Harga Minyak

Berbeda dengan dua emiten sebelumnya, MEDC mencatat lonjakan laba bersih sebesar 280% menjadi USD67 juta. Kinerja ini didorong peningkatan produksi dan harga jual minyak.

Dengan potensi kenaikan harga Brent ke depan, prospek kuartal berikutnya dinilai positif. Valuasi saham ini juga relatif murah di level 3,7 kali P/E 2026.

PANI: Lonjakan Pendapatan dan Laba Signifikan

PANI mencatat pendapatan Rp1,1 triliun atau tumbuh 82% secara tahunan. Laba bersih melonjak lebih dari 10 kali lipat menjadi Rp578 miliar.

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Grab Singapura Cetak Pendapatan US$955 Juta di Kuartal I, Lampaui Ekspektasi Wall Street! 

Ekspansi dan Persaingan Ketat di Asia Tenggara Meski meraih hasil positif, Grab...

Market

CIMB Niaga Gandeng 27 Perguruan Tinggi, Dorong Pengembangan Talenta Muda

finnews.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan...

Laba CIMB Niaga Q1 2026 turun tipis jadi Rp1,77 triliun, meski margin tetap kuat di tengah tekanan pendapatan.
Market

Laba CIMB Niaga Q1 2026 Turun Tipis Jadi Rp1,77 Triliun, Margin Masih Tebal!

Untuk posisi kas, bank ini mengantongi Rp4,16 triliun. Di sisi lain, total...

IHSG naik ke 7.057 dengan transaksi Rp23,6 triliun. BRPT dan TPIA melonjak, meski asing masih catat net sell Rp518 miliar.
Market

IHSG Melejit ke 7.057! Saham BRPT Cs Terbang, Asing Masih Net Sell Rp518 Miliar

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati arus dana asing dan...