finnews.id — PT Indosat Tbk (ISAT) membuka 2026 dengan kinerja yang mencuri perhatian pasar. Emiten telekomunikasi ini mencatat lonjakan laba bersih 13,74 persen secara tahunan pada kuartal I-2026 menjadi Rp1,49 triliun, ditopang pertumbuhan pendapatan yang solid dari bisnis seluler hingga layanan digital.
Kinerja ini memberi sinyal kuat bahwa bisnis telekomunikasi dan data masih menjadi mesin pertumbuhan yang agresif di tengah kompetisi industri yang ketat. Bukan hanya laba yang naik, fondasi keuangan perseroan juga terlihat semakin kokoh dari sisi aset, ekuitas, hingga laba per saham.
Pendapatan ISAT Tumbuh Dua Digit, Bisnis Seluler Jadi Mesin Utama
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026 yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Indosat membukukan pendapatan konsolidasian Rp15,22 triliun, naik 12,10 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp13,57 triliun.
Pendorong utama datang dari segmen seluler yang masih menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Pendapatan segmen ini mencapai Rp12,70 triliun, tumbuh 11,21 persen secara tahunan dari Rp11,42 triliun.
Kenaikan ini menegaskan permintaan layanan data dan konektivitas tetap menjadi penggerak utama kinerja operator telekomunikasi di tengah transformasi digital yang terus berlangsung.
Tak hanya itu, lini Multimedia, Komunikasi Data dan Internet (MIDI) juga tampil impresif. Segmen ini menyumbang Rp2,30 triliun atau tumbuh 17,53 persen dibandingkan Rp1,96 triliun pada kuartal I-2025.
Pertumbuhan dua digit di MIDI menunjukkan bisnis digital dan layanan data korporasi semakin berkontribusi terhadap ekspansi pendapatan Indosat.
Laba Bersih Tumbuh, Profitabilitas Menguat
Dorongan pendapatan langsung tercermin ke bottom line perseroan.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,49 triliun, naik dari Rp1,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara laba periode berjalan tercatat Rp1,52 triliun, meningkat dari Rp1,41 triliun.
Dari sisi profitabilitas operasional, laba sebelum pajak penghasilan juga naik 9,71 persen menjadi Rp1,92 triliun, dibandingkan Rp1,75 triliun pada kuartal pertama 2025.