Home Market IHSG Ambruk, Tapi Ashmore Bawa Kabar Baik: Risiko Indonesia Turun ke Frontier Disebut Makin Menjauh
Market

IHSG Ambruk, Tapi Ashmore Bawa Kabar Baik: Risiko Indonesia Turun ke Frontier Disebut Makin Menjauh

Bagikan
Ashmore menilai risiko Indonesia turun jadi frontier makin kecil meski IHSG anjlok. Reformasi pasar modal disebut jadi kunci pulihkan sentimen.
Ilustrasi - Pergerakan saham (Pexels - Romulo Queiroz)
Bagikan
Tekanan IHSG dan Rupiah Memanas, Ashmore Sebut Skenario Terburuk Kemungkinan Sudah Lewat

finnews.id – Pasar saham Indonesia menutup pekan keempat April dengan tekanan tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (24/4/2026) jatuh 3,38% ke level 7.129, terkoreksi lebih dari 500 poin dibanding pekan sebelumnya. Di tengah tekanan itu, investor asing juga mencatat arus keluar ekuitas sebesar US$55 juta.

Namun di tengah koreksi yang memicu kekhawatiran pasar, PT Ashmore Asset Management Indonesia justru membawa pandangan yang lebih menenangkan. Manajer investasi tersebut menilai skenario terburuk untuk pasar domestik kemungkinan sudah terlewati, termasuk kekhawatiran perubahan status pasar Indonesia menjadi frontier market.

Ashmore menegaskan tidak ada indikasi Indonesia turun kelas menjadi frontier. Bahkan, pengakuan atas reformasi pasar modal dinilai menjadi katalis positif yang berpotensi memperbaiki sentimen investor global.

Sektor Energi dan Properti Jadi Korban Terbesar

Dalam sepekan terakhir, tekanan paling dalam menghantam saham sektor energi dan properti. Sektor energi terkoreksi 8,15%, sementara properti dan real estat ambles 6,30%.

Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik justru mencuri perhatian sebagai sektor dengan kinerja terbaik setelah melonjak 4,61%.

Dari sisi aset, minyak mentah dan batu bara menjadi pemenang pekan ini. Harga minyak melesat 18,58%, sedangkan batu bara naik 6,75%. Sebaliknya, indeks saham unggulan justru terpukul, dengan LQ45 turun 8,97% dan IHSG melemah 6,61% secara mingguan.

Kondisi itu mencerminkan rotasi besar investor ke aset berbasis komoditas dan sektor defensif di tengah naiknya risiko geopolitik global.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Ashmore menilai perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memang memberi ruang negosiasi, tetapi belum cukup meredakan premi risiko pasar.

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian, sementara harga minyak Brent melampaui US$105 per barel. Situasi ini mendorong dolar AS menguat dengan indeks DXY mendekati 99 dan membuat investor cenderung mengurangi eksposur di aset berisiko.

Bagikan
Artikel Terkait
Meski IHSG ambruk 6,61%, sejumlah saham justru melonjak hingga 94%. Ini daftar top gainers dan saham top losers yang jadi sorotan pasar.
Market

Saat IHSG Ambruk 6,6 Persen, Deretan Saham Ini Justru Melejit Sampai 94 Persen, Ada yang Bikin Cuan Jumbo

Top Gainers Pekan Ini Mengejutkan, Saat Pasar Berdarah Sejumlah Saham Justru Terbang...

Market

Strategi Pemerintah Redam Kenaikan Tiket Pesawat di Tengah Lonjakan Harga Energi

finnews.id – Lonjakan harga energi global mulai memberikan tekanan serius terhadap industri...

Market

Magic in the Stars Hadir di Jakarta !! Cek Jadwal & Harga Tiket Disney On Ice 2026

finnews.id – Pertunjukan es berskala internasional, Disney On Ice, kembali menyapa penggemar...

BBCA jatuh ke level terendah tiga tahun, Morgan Stanley pangkas proyeksi emas, dan bocoran dividen BCA jadi sorotan pasar.
Market

Trending! BBCA Ambrol ke Level Terendah 3 Tahun, Morgan Stanley Pangkas Proyeksi Emas: Ini 5 Isu Pasar Paling Panas

finnews.id — Sentimen pasar bergerak cepat menjelang akhir pekan. Dari anjloknya saham...