“Dampak terhadap pasar global masih akan berlanjut, dengan ketidakpastian utama pada durasi konflik,” tulis Ashmore.

Lonjakan harga energi itu juga ikut menekan sentimen global, mulai dari Eropa hingga Asia, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan rantai pasok.

Rupiah Sempat Tembus 17.300, Tapi BI Dinilai Sigap

Di dalam negeri, tekanan pasar diperparah pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.300 per dolar AS.

Meski begitu, Ashmore menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga menjadi sinyal penting untuk menjaga stabilitas. Bank sentral juga dinilai membuka ruang langkah lanjutan bila volatilitas meningkat.

Jumlah uang beredar M2 yang tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya juga ikut menjadi perhatian pasar, seiring investor menimbang keseimbangan antara likuiditas dan stabilitas nilai tukar.

MSCI Jadi Sorotan, Tapi Risiko Frontier Disebut Menjauh

Salah satu isu yang sempat membebani pasar ialah kekhawatiran Indonesia berpotensi diturunkan menjadi frontier market.

Namun Ashmore melihat kekhawatiran itu berlebihan. Menurut perusahaan itu, MSCI justru mengakui perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dan akan memakai data High Shareholder Concentration (HSC) dari Bursa Efek Indonesia dan KSEI dalam peninjauan berikutnya.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif bagi kualitas pasar domestik.

“Tidak ada indikasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia menjadi frontier, sehingga skenario terburuk kemungkinan telah terlewati,” tulis Ashmore.

Pernyataan ini memberi angin segar di tengah tekanan jual yang sempat memicu spekulasi negatif terhadap prospek pasar modal nasional.

Peluang Rebound Terbuka Jika Reformasi Konsisten

Ashmore menilai pelemahan pasar belakangan lebih dipicu kombinasi tekanan rupiah dan eskalasi geopolitik, bukan perubahan fundamental struktural Indonesia.

Karena itu, peluang pemulihan dinilai tetap terbuka, terutama jika negosiasi damai AS-Iran menghasilkan terobosan dan reformasi pasar modal Indonesia berjalan konsisten.