finnews.id – Kabar besar datang dari raksasa teknologi asal Cupertino. Pada hari Senin (20 April), Apple secara resmi menunjuk John Ternus, seorang veteran internal perusahaan, sebagai CEO baru mereka.
Ternus mendapatkan mandat besar untuk memimpin perusahaan setelah masa jabatan Tim Cook berakhir, terutama saat industri sedang menghadapi perubahan besar akibat ledakan Kecerdasan Buatan (AI).
Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan menandai berakhirnya sebuah era ikonik. Ternus kini berdiri di garis depan saat para pesaing mulai menggunakan AI untuk menantang dominasi Apple di pasar elektronik konsumen.
Perjalanan Karier Sang Veteran 25 Tahun
John Ternus bukanlah orang baru di lingkungan Apple. Ia telah mendedikasikan dirinya selama 25 tahun bagi perusahaan berlogo buah apel ini. Berikut adalah kilas balik kariernya:
-
Awal Karier: Sebelum berlabuh di Apple, Ternus bekerja sebagai insinyur mekanik di Virtual Research Systems selama empat tahun. Ia memegang gelar sarjana Teknik Mesin dari Universitas Pennsylvania.
-
Era Desain Produk: Bergabung dengan tim desain produk Apple pada tahun 2001, kariernya melesat hingga menjadi wakil presiden teknik perangkat keras di tahun 2013.
-
Jajaran Eksekutif: Pada tahun 2021, ia resmi masuk ke jajaran eksekutif senior sebagai wakil presiden senior teknik perangkat keras, yang melapor langsung kepada Tim Cook.
Ben Bajarin, analis dari Creative Strategies, menyebutkan bahwa Ternus memiliki reputasi yang sangat positif di internal perusahaan. “Semua orang menyukainya di Apple. Semua eksekutif yang saya kenal sangat memujinya,” ungkap Bajarin.
Sosok di Balik Kesuksesan Perangkat Keras Apple
Selama beberapa tahun terakhir, Ternus memegang peran kunci dalam pengembangan produk inti Apple, mulai dari iPhone, iPad, Mac, hingga Apple Watch dan AirPods. Ia adalah sosok yang memperkenalkan iPhone Air ultra-tipis dan MacBook Neo, laptop terjangkau seharga US$599 yang menggunakan chip serupa iPhone 16 Pro.
Prestasi terbesarnya terlihat saat ia memimpin transisi laptop Mac dari prosesor Intel ke chip desain sendiri (Apple Silicon). Langkah berani ini mengakhiri ketergantungan satu dekade pada Intel dan berhasil meningkatkan performa serta daya tahan baterai Mac secara signifikan.
Pandangan Pragmatis Terhadap Teknologi AI
Di saat Google dan Microsoft jor-joran menanamkan modal di sektor AI, Ternus justru menunjukkan sikap yang sangat hati-hati dan pragmatis. Baginya, teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan produk yang hebat.
“Kami tidak pernah berpikir untuk mengirimkan teknologi,” katanya dalam sebuah wawancara baru-baru ini tentang AI dengan situs ulasan teknologi Tom’s Guide. “Kami selalu berpikir tentang bagaimana kami dapat memanfaatkan teknologi untuk mengirimkan produk-produk yang luar biasa.”
Namun, tantangan besar menantinya. Francisco Jeronimo dari IDC mempertanyakan apakah Ternus memiliki keberanian untuk mendefinisikan platform baru. Menurutnya, membangun perangkat keras yang hebat adalah masalah yang sudah terdefinisi, namun membangun platform AI yang diadopsi secara luas adalah tantangan yang berbeda sama sekali.
Sifat Perfeksionis yang Mendalam
Satu hal yang menonjol dari karakter John Ternus adalah sifat perfeksionisnya. Saat berbicara di Universitas Pennsylvania tahun 2024, ia menceritakan pengalamannya berdebat dengan pemasok hanya gara-gara jumlah alur pada sekrup di bagian belakang monitor. Meski sekrup itu jarang dilihat pelanggan, ia bersikeras jumlahnya harus 25 alur, bukan 35 alur.
“Jika Anda akan menghabiskan banyak waktu untuk sesuatu, Anda harus mengerahkan upaya terbaik Anda,” tegas Ternus.
Masa Transisi Kepemimpinan
John Ternus akan resmi mengambil alih kemudi sebagai CEO Apple pada 1 September. Ia menggantikan Tim Cook yang telah memimpin sejak 2011. Cook sendiri tidak benar-benar pergi, karena ia akan menjabat sebagai ketua eksekutif perusahaan.
Menariknya, saat ini Ternus berusia 50 tahun—usia yang sama dengan Tim Cook saat pertama kali menggantikan Steve Jobs. Dengan bergabungnya Ternus ke dalam dewan direksi Apple mulai September mendatang, publik menantikan inovasi berani apa yang akan ia bawa untuk mempertahankan takhta Apple di pasar global.