Home Market Harga Minyak Dunia Mendadak Jinak! Sinyal Damai AS-Iran Muncul, Tapi Selat Hormuz Masih Jadi Bom Waktu?
Market

Harga Minyak Dunia Mendadak Jinak! Sinyal Damai AS-Iran Muncul, Tapi Selat Hormuz Masih Jadi Bom Waktu?

Bagikan
Harga minyak Brent turun ke USD95,18 karena harapan damai AS-Iran. Namun, blokade Selat Hormuz masih mengancam pasokan energi global.
Harga minyak Brent turun ke USD95,18 karena harapan damai AS-Iran. Namun, blokade Selat Hormuz masih mengancam pasokan energi global.
Bagikan

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar energi global. Setelah sempat “mengamuk” dan terbang tinggi kemarin, harga minyak dunia pagi ini justru memilih untuk mendingin. Kamu yang khawatir dengan lonjakan harga BBM mungkin bisa sedikit bernapas lega, meski situasi di Timur Tengah sebenarnya masih sangat cair dan penuh drama.

Pasar minyak internasional saat ini sedang menunjukkan aksi balik arah. Optimisme terhadap rencana pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama mengapa harga minyak mentah hari ini mulai melandai. Investor berharap pertemuan tersebut bisa membuka kembali keran pasokan minyak dari jantung produksi dunia di Timur Tengah yang sempat tersendat.

Update Harga Minyak Terbaru: Brent dan WTI Mulai Melandai

Berdasarkan data perdagangan hari Selasa (21/4/2026), harga minyak mentah berjangka Brent turun 30 sen atau sekitar 0,31 persen ke level USD95,18 per barel. Tak ketinggalan, patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga menyusut 69 sen ke posisi USD88,92 per barel. Bahkan, kontrak Juni yang lebih aktif terpantau anjlok lebih dalam hingga 1,4 persen ke angka USD86,18.

Padahal, baru kemarin pasar bergejolak hebat. Brent sempat melesat 5,6 persen dan WTI meroket 6,9 persen setelah Iran secara mengejutkan menutup kembali Selat Hormuz. Situasi semakin panas saat Amerika Serikat menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade pelabuhan. Namun, hari ini sentimen pasar berubah drastis karena pelaku pasar lebih memilih untuk “bertaruh” pada proses perdamaian.

Harapan Damai di Pakistan: Akankah Gencatan Senjata Berlanjut?

Fokus dunia kini tertuju pada Pakistan. Teheran dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan damai di Islamabad guna mengakhiri blokade Amerika yang mencekik. Gencatan senjata dua minggu yang berlaku saat ini akan segera berakhir pekan ini, sehingga pertemuan tersebut menjadi sangat krusial.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, memang sempat menyebut pelanggaran gencatan senjata oleh AS sebagai penghalang besar. Senada dengan itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan berunding di bawah ancaman. Namun, upaya diplomasi yang terus berjalan memberikan harapan bahwa nota kesepahaman atau perpanjangan gencatan senjata bisa tercapai dalam waktu dekat.

Selat Hormuz Masih Lumpuh, Risiko Pasokan Tetap Menghantui

Meskipun harga turun, kamu jangan sampai lengah. Risiko gangguan pasokan minyak mentah sebenarnya masih berada di level tertinggi. Analis dari ING memperingatkan bahwa pasar mungkin terlalu meremehkan gangguan yang sedang berlangsung di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan arteri vital bagi sepertiga pasokan minyak global, dan saat ini aktivitas pengiriman di sana masih sangat terbatas.

Bahkan, Kuwait sudah menyatakan status force majeure atas pengiriman minyak mereka akibat blokade selat tersebut. Jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut hingga satu bulan ke depan, dampaknya bisa sangat mengerikan. Analis Citi memprediksi total kerugian pasokan bisa mencapai 1,3 miliar barel, yang berpotensi melambungkan harga minyak hingga menembus level USD110 per barel pada kuartal kedua 2026.

Dampak Bagi Konsumen: Permintaan Mulai Tertekan

Mahalnya harga energi akibat ketegangan geopolitik ini mulai memakan korban. Laporan dari Societe Generale menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak akibat penutupan selat telah menekan permintaan global sekitar 3 persen. Orang-orang mulai mengurangi konsumsi energi karena harganya yang tidak lagi bersahabat dengan kantong.

Prediksi optimis menyebutkan bahwa pasokan minyak mungkin baru akan benar-benar kembali normal pada akhir 2026. Hingga saat itu, pergerakan harga minyak dunia akan tetap seperti roller coaster—sangat bergantung pada hasil negosiasi meja hijau dan situasi keamanan di perairan Timur Tengah. Tetap pantau terus perkembangannya karena apa yang terjadi di Selat Hormuz hari ini akan menentukan biaya hidup kamu esok hari! (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Market

Maskapai TransNusa Buka Rute Baru Jakarta – Lombok, Tingkatkan Akses Wisata

finnews.id – Maskapai penerbangan TransNusa resmi membuka layanan penerbangan baru, yang menghubungkan...

Market

RUPST CIMB Niaga 2025: Bagi Dividen Rp4,07 Triliun, Perkuat Strategi dan Tata Kelola

PT Bank CIMB Niaga Tbk kembali menunjukkan kinerja solid sepanjang 2025 melalui...

Market

KAI Logistik Catat Kinerja Moncer di Awal 2026, Angkut 3,6 Juta Ton Barang di Tengah Ketidakpastian Global

finnews.id – Di tengah tekanan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, KAI...

IHSG hari ini turun 0,46% ke 7.559. Cek daftar saham top gainer SSIA & ESSA, serta aksi asing yang borong SSMS
Market

Rangkuman Perdagangan Hari ini: IHSG Memerah! Sektor Energi Justru Pesta Pora

finnews.id – Pasar modal Indonesia kembali berguncang hebat hari ini! Indeks Harga...