finnews.id – Pasar emas dunia mendadak masuk ke fase “wait and see” yang sangat menegangkan! Setelah sempat terbang tinggi menyentuh rekor termahalnya dalam sebulan terakhir, harga logam mulia ini mulai bergerak stabil pada perdagangan Kamis. Harapan akan berakhirnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi magnet utama yang menahan laju kenaikan harga emas. Sobat investor, Anda wajib waspada karena pergerakan emas spot kali ini sangat bergantung pada jari Presiden AS Donald Trump di media sosial!
Emas Spot Tertahan di Level USD4.785: Skenario Damai Mulai Masuk Pasar
Harga emas hari ini menunjukkan pergerakan yang relatif tidak berubah di level USD4.785,57 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat harus rela ditutup melemah tipis 0,3 persen ke posisi USD4.808,30 per ons. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar setelah logam mulia ini sempat tertekan hebat pada Maret lalu akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Munculnya asa baru terkait perundingan damai menjadi penopang utama harga logam kuning. Jika perdamaian antara Washington dan Teheran benar-benar terwujud, harga energi diprediksi akan melandai. Penurunan harga energi inilah yang berpotensi meredam ekspektasi kenaikan suku bunga, sebuah kabar baik bagi emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil. Kabarnya, kedua negara akan segera melanjutkan negosiasi setelah sempat buntu pada akhir pekan lalu.
Efek Cuitan Trump: Gencatan Senjata dan Prospek Bunga The Fed
Sentimen pasar semakin memanas setelah Presiden Donald Trump mengunggah pesan di media sosial mengenai jadwal gencatan senjata. Langkah diplomatik ini ditujukan untuk meredam konflik antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran. David Meger, Direktur Perdagangan High Ridge Futures, menilai meredanya tensi panas di Timur Tengah akan memberikan “karpet merah” bagi bank sentral AS untuk mulai mempertimbangkan pemangkasan suku bunga di masa depan.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga Federal Reserve pada tahun 2026 sebesar 32 persen. Jika suku bunga benar-benar melandai, daya tarik investasi emas akan kembali meroket karena biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah. Namun, investor tetap harus memantau data tenaga kerja AS, di mana klaim tunjangan pengangguran baru-baru ini menurun, menunjukkan pasar kerja yang masih stabil meski perusahaan mulai berhati-hati dalam merekrut karyawan baru.
Pasar Perak Terancam Defisit Struktural 6 Tahun Berturut-turut!
Berbeda nasib dengan emas, harga perak spot justru melorot 1 persen menjadi USD78,29 per ons. Namun, jangan remehkan logam putih ini! Laporan dari Silver Institute dan konsultan Metals Focus memperingatkan adanya risiko defisit struktural perak selama enam tahun berturut-turut. Sejak tahun 2021, cadangan perak dunia sudah terkuras sekitar 762 juta troy ounce.
Kondisi ini menciptakan risiko pengetatan likuiditas yang nyata di masa depan, meskipun prospek permintaan saat ini sedang melemah akibat ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, logam mulia lainnya seperti platinum dan paladium juga ikut mencatat pelemahan masing-masing sebesar 0,6 persen dan 0,7 persen pada sesi perdagangan kali ini. (*)