finnews.id – Kabar buruk menyergap pasar logam mulia! Harga emas resmi melemah pada perdagangan Selasa (14/4/2026) dini hari WIB. Si kuning yang biasanya menjadi penyelamat saat krisis, kini justru terkapar di tengah penguatan dolar Amerika Serikat yang kian agresif. Memanasnya tensi geopolitik antara Amerika dan Iran bukannya membuat emas terbang, malah memicu ketakutan baru akan inflasi gila-gilaan yang bisa memaksa bank sentral bertindak lebih kejam.
Jika Anda sedang memegang aset emas atau berencana membelinya, sebaiknya pantau terus pergerakan menit demi menit. Harga emas spot tercatat terjun 0,3 persen ke posisi USD4.734,50 per ons. Angka ini merupakan level terendah sejak awal April. Jangan sampai Anda terjebak di tengah ketidakpastian global ini tanpa strategi yang matang, karena dinamika pasar saat ini benar-benar tidak terduga.
Dolar AS Menggila, Emas Jadi Semakin Mahal bagi Dunia
Penyebab utama jatuhnya harga emas adalah apresiasi dolar AS. Saat greenback menguat, emas yang dibanderol dalam mata uang Paman Sam tersebut otomatis menjadi lebih mahal bagi para kolektor atau investor yang menggunakan mata uang selain dolar. Hal ini langsung memukul sisi permintaan global. Emas berjangka Amerika Serikat bahkan harus ditutup menyusut 0,4 persen ke level USD4.767,40 per ons.
Phillip Streible, Chief Market Strategist dari Blue Line Futures, mengingatkan bahwa pasar saat ini sedang sangat sensitif terhadap berita (news driven). Investor kini lebih fokus memelototi pergerakan harga minyak mentah. Mengapa? Karena lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah akan menentukan laju inflasi global. Jika inflasi meroket, maka kebijakan The Fed akan tetap galak, dan itu adalah berita buruk bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Gagalnya Damai AS-Iran: Blokade Selat Hormuz Mengancam Dunia
Situasi semakin mencekam setelah perundingan damai antara Amerika dan Iran menemui jalan buntu pada akhir pekan lalu. Militer AS tidak main-main dengan mengumumkan rencana blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran. Di sisi lain, Teheran tak tinggal diam dan mengancam balik akan mengincar pelabuhan negara-negara di wilayah Teluk. Perang urat syaraf ini langsung membuat harga minyak mendidih.