Konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari lalu telah menyeret harga emas spot terkoreksi lebih dari 10 persen. Memang emas sering disebut sebagai lindung nilai inflasi, namun dalam kondisi suku bunga tinggi (higher for longer), daya tariknya memudar. Investor lebih memilih beralih ke aset yang memberikan imbal hasil nyata di tengah ancaman kenaikan suku bunga.
Peluang Penurunan Suku Bunga The Fed Semakin Tipis
Data terbaru dari FedWatch Tool CME Group menunjukkan kenyataan pahit bagi pasar emas. Peluang penurunan suku bunga AS hingga akhir tahun kini tersisa sekitar 29 persen saja, terjun bebas dari angka 40 persen pada bulan lalu. Suku bunga yang tinggi adalah racun bagi emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) bagi mereka yang menyimpan logam mulia.
Namun, analis dari SP Angel memberikan sudut pandang menarik. Mereka menilai kejatuhan harga emas akibat perang ini justru merupakan perkembangan yang sehat. Koreksi tajam ini membersihkan pasar dari posisi spekulatif yang berlebihan, sehingga menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk prospek jangka panjang bagi pemegang emas fisik.
Nasib Logam Lain: Platinum dan Paladium Justru Melompat
Menariknya, saat emas dan perak tertekan, beberapa logam industri justru menunjukkan taji. Berikut adalah pantauan harga logam lainnya:
- Perak: Turun 0,2 persen ke posisi USD75,71 per ons. Meski turun tipis, analis optimis permintaan jangka panjang tetap kuat karena percepatan investasi energi surya akibat krisis minyak.
- Platinum: Naik tipis 0,3 persen ke level USD2.050,80 per ons.
- Paladium: Meledak dengan kenaikan mencapai 3 persen ke posisi USD1.566,15 per ons.
Kesimpulan: Saatnya Serok atau Tunggu Dulu?
Kelemahan emas saat ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan dolar dan kebijakan suku bunga AS masih memegang kendali penuh. Ketegangan di Timur Tengah memang memberikan risiko inflasi, namun pasar lebih takut pada respon The Fed yang kemungkinan tetap mempertahankan bunga tinggi. Tetap waspada dan jangan gegabah melakukan transaksi besar sebelum ada kepastian dari arah konflik Amerika-Iran yang kian memanas ini. (*)