finnews.id – Kabar gembira buat kantong kita semua! Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah baru saja melempar “bom” ketenangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kabar yang paling dinantikan akhirnya tiba: kebijakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) resmi dipertahankan hingga akhir tahun 2026! Ini artinya, Anda tidak perlu war atau rebutan stok karena khawatir harga bakal melonjak dalam waktu dekat.
Keputusan besar ini diambil langsung oleh pemerintah bersama Pertamina untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan yang paling penting, menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat. Jadi, buat Anda yang setiap hari mobilitasnya bergantung pada kendaraan pribadi atau logistik, pengumuman ini adalah napas lega yang sangat berharga.
Airlangga Hartarto: Pertalite dan Solar Tetap Aman!
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah sudah bulat suara. Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi ini merupakan kelanjutan dari komitmen yang sebelumnya sudah diumumkan pada akhir Maret lalu. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan masyarakat tidak terbebani oleh gejolak harga energi dunia.
“Guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli, seperti yang sudah diumumkan pada tanggal 31 Maret yang lalu, pemerintah dan Pertamina ini sudah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Jadi sekali lagi, BBM bersubsidi itu adalah Pertalite dan Solar,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Kebijakan harga tetap ini berlaku khusus untuk dua jenis bahan bakar andalan masyarakat, yakni Biosolar dan Pertalite. Airlangga juga membocorkan syarat utamanya: harga subsidi ini akan terus bertahan selama harga minyak dunia tidak melampaui rata-rata Rp97.000 per barel. Dengan tren saat ini, pemerintah optimis harga tersebut bisa dipatok hingga Desember 2026.
Menkeu Purbaya Siapkan Dana “Jumbo” Rp420 Triliun
Banyak yang bertanya, dari mana uangnya? Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung pasang badan. Ia memastikan bahwa kas negara dalam kondisi yang sangat sehat untuk membiayai subsidi energi ini. Pemerintah bahkan sudah membuat simulasi pahit jika harga minyak dunia melesat hingga 100 dolar AS per barel.