Home Internasional China Siapkan Strategi Baru saat Pertumbuhan Melambat ke Level Terendah
Internasional

China Siapkan Strategi Baru saat Pertumbuhan Melambat ke Level Terendah

Bagikan
Perlambatan Ekonomi China, Ilustrasi: DALL·E 3
Bagikan

finnews.id – China menurunkan target pertumbuhan ekonominya menjadi 4,5%-5%, level terendah sejak 1991. Keputusan ini diumumkan dalam pertemuan politik terbesar negara, yang dikenal sebagai “dua sesi”, bersamaan dengan rincian Rencana Lima Tahun ke-15.

Langkah ini diambil untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk lemahnya konsumsi domestik, populasi yang menua, krisis properti, ketegangan perdagangan global, dan tekanan energi akibat konflik internasional.

Analis menilai penurunan target memberi Beijing ruang lebih besar untuk mengelola ekonomi tanpa harus mengambil langkah finansial besar hanya demi memenuhi angka tertentu.

Jason Bedford dari National University of Singapore menyatakan bahwa penggunaan target fleksibel pernah diterapkan selama pandemi, tetapi bukan praktik normal.

Fokus pada Konsumsi dan Inovasi

Rencana Lima Tahun terbaru mencakup lebih dari 100 proyek besar yang menitikberatkan pada sains, teknologi, transportasi, dan energi. Premier Li Qiang menekankan pentingnya investasi di inovasi, industri berteknologi tinggi, riset ilmiah, serta peningkatan konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap ketergantungan China pada ekspor dan upaya pembaruan sektor manufaktur.

Selain itu, rencana ini juga menyoroti pembangunan masyarakat ramah kelahiran, untuk mengatasi masalah penurunan angka kelahiran yang berpotensi memengaruhi tenaga kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Kondisi Pasar dan Realitas Ekonomi

Data resmi menunjukkan China mencapai target pertumbuhan 5% untuk 2025, meski pertumbuhan kuartal terakhir melambat menjadi 4,5% akibat konsumsi domestik yang lemah dan krisis properti.

Lebih dari dua pertiga provinsi menyesuaikan target pertumbuhan, baik menurunkan angka yang diharapkan maupun mengubah bahasa target menjadi “sekitar” tingkat tertentu.

Zhou Zheng dari China Macro Group menilai target baru ini sebagai langkah realistis menghadapi kompleksitas domestik dan lingkungan perdagangan global yang menantang. Namun, Ning Leng dari Georgetown University memperingatkan agar data pertumbuhan ini dilihat dengan hati-hati, karena indikator lain menunjukkan kondisi ekonomi lebih lemah.

Sektor properti, yang pernah menyumbang hampir sepertiga ekonomi China, kini mengalami penurunan signifikan, memicu pemutusan kerja dan pengurangan gaji. Ketergantungan pada ekspor menjadi kerentanan tambahan, terutama di tengah tarif yang dikenakan Amerika Serikat.

Bagikan
Artikel Terkait
Internasional

Sejarah 1979 AS Bakal Terulang, Iran Diam Mengamati

finnews.id – Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika...

Internasional

CENTCOM: 50 Ribu Tentara AS Terlibat dalam Serangan ke Iran

finnews.id – Lebih dari 50.000 tentara, 200 jet tempur, dan dua kapal...

Internasional

PBB Desak Penyelidikan Serangan ke Sekolah Dasar di Iran yang Tewaskan Ratusan Murid

finnews.id – Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mendesak pihak-pihak yang disebutnya...

Iran Pilih Perang Total Daripada Negosiasi dengan Washington  
Internasional

Iran Pilih Perang Total Daripada Negosiasi dengan Washington  

Finnews.co.id – Di tengah guncangan hebat pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei,...