finnews.id – Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) dinilai cukup menggoyahkan pasar energi global.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak sekaligus ancaman penurunan pasokan di tengah ketergantungan banyak negara pada jalur strategis itu.
AS sendiri dinilai tidak tahu diri, lantaran tidak pernah mengingat sejarah.
Pada 1979, “Kiamat” energi pernah dialami AS dimana kelangkaan bahan bakar di dalam negeri menimpa negara tersebut.
Akibatnya warga harus mengantre panjang untuk mendapatkan BBM, bahkan sebagian warga tersebut kembali menggunakan kayu bakar untuk mendinginkan ruangan sebagai bahan bakar alternatif.
46 tahun sebelumnya, Iran mengalami perubahan besar dalam sistem pemerintahan.
Kekuasaan monarki di bawah Mohammad Reza Pahlavi, sekutu dekat AS, tumbang dan digantikan oleh Republik Islam yang dipimpin Ruhollah Khomeini.
Revolusi ini akibatkan gelombang demonstrasi besar-besaran yang menolak dominasi Barat serta menuntut perubahan total arah dan tatanan negara.
Kekacauan politik berdampak langsung pada sektor energi.
Industri minyak Iran lumpuh akibat pemogokan, eksodus tenaga kerja asing yang ketakutan, serta gangguan operasional di kilang-kilang.
Berdasarkan riset “Oil embargo and Energy Crises of 1973 and 1979”, produksi yang pada Juli 1978 masih sekitar 5,8 juta barel per hari merosot tajam menjadi hanya sekitar 445.000 barel per hari pada Januari 1979.
Penurunan drastis ini menggoyah pasokan global dan memicu kepanikan pasar.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak hingga sekitar USD20 per barel dan memicu gelombang inflasi baru di negara-negara Barat.
Negara pengimpor minyak, termasuk AS, dilanda krisis minyak.
Menurut riset “The U.S. Petroleum Crisis of 1979” (1979), di dalam negeri, antrean panjang tampak di hampir seluruh SPBU di berbagai wilayah AS.
Mengakibatkan banyak pom bensin memasang papan bertuliskan “Sorry, No Gas” atau “No More Gas Today”.
Warga pun harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Sebenarnya, krisis minyak ini bukan pertama kali melanda AS.
Tahun 1973, krisis minyak juga melanda AS usai mendapat embargo oleh negara-negara Arab anggota OPEC karena mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur.
Namun, krisis 1979 berdampak jauh lebih besar karena berlangsung sekitar delapan bulan.
Sejumlah negara bagian menerapkan kebijakan masing-masing. Mulai dari sistem ganjil-genap untuk pembelian bensin hingga pembatasan kecepatan kendaraan guna menghemat energi.
Menurut situs History, Presiden Jimmy Carter bahkan menyebut situasi itu sebagai krisis nasional dan menyerukan masyarakat untuk menekan konsumsi energi.
Presiden Carter juga mendorong penggunaan energi alternatif, seperti pemasangan panel surya dan pemanfaatan kayu bakar sebagai pengganti minyak di sistem penghangat ruangan.
Sejak saat itu, sebagian warga AS mengikuti seruan tersebut termasuk beralih menggunakan kayu bakar.
Terbukti, menurut situs For Green Heat, angka penjualan tungku kayu dan kayu bakar sebagai pemanas mengalami peningkatan di tahun 1979 dengan nilai jutaan dollar.
Akhirnya krisis mereda ketika AS mendapat minyak dari negara-negara lain, seperti Venezuela dan Mexico, dan memperoleh sumber minyak baru di Alaska.
Berkat kejadian ini, AS menjadi lebih serius memperkuat cadangan strategis energi dan mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Terlebih, usai memutuskan menghentikan total impor minyak dari Iran pada akhir 1979 karena situasi yang kian memburuk.
Kini, setiap ketegangan di sekitar Selat Hormuz selalu membangkitkan bayang-bayang buruk atas ‘kiamat’ minyak di AS tahun 1979.