finnews.id – Aksi pengeroyokan yang terjadi di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (11/12) malam, berujung pada kerusuhan besar yang membakar sedikitnya sembilan kios dan delapan kendaraan. Insiden ini menelan korban jiwa dan memicu penjagaan ketat aparat pada Jumat pagi.
Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Selatan, Asril Rizal, menyebutkan bahwa objek yang terbakar meliputi sembilan kios, enam motor, dan satu mobil. Kebakaran dipicu aksi massa yang diduga membawa bensin saat keributan pecah di Jalan H Mahmud Raya, Blok Langgar 1, Duren Tiga, sekitar pukul 23.35 WIB.
Sebanyak 49 personel dan beberapa unit pemadam dikerahkan untuk menjinakkan api, termasuk enam unit pompa, dua unit quick response, satu watermist, dan satu unit komando. Total area terbakar mencapai 195 meter persegi dengan kerugian ditaksir sekitar Rp273 juta.
Pemicu Keributan
Pengeroyokan tersebut disebut dipicu persoalan utang sepeda motor. Pemilik kendaraan yang belum menerima uang menagih kembali menggunakan bantuan rekannya. Namun penagihan itu justru berujung tragis ketika dua orang berinisial MET dan NAT, yang diduga penagih utang atau mata elang (matel), malah menjadi korban pengeroyokan.
Polda Metro Jaya membenarkan adanya dua korban meninggal dunia, salah satunya mengembuskan napas terakhir di RS Bhudi Asih.
Polisi Masih Lakukan Penyelidikan
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyampaikan bahwa pihaknya masih menyelidiki apakah kedua korban benar-benar merupakan mata elang. Minimnya saksi membuat pendalaman kasus terus berlanjut.
Penyelidikan kini ditangani oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan.
100 Orang Terlibat dalam Pengeroyokan
Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, menjelaskan bahwa sekitar 80–100 orang datang berkelompok pada malam kejadian. Mereka melakukan penyerangan hingga mengakibatkan satu orang meninggal di lokasi dan satu luka berat. Kelompok ini juga merusak sejumlah warung dan motor milik pengemudi ojek online.
“Personel kami sebenarnya sudah mengantisipasi, namun jumlah massa jauh lebih besar dan datang secara tiba-tiba,” kata Nicolas.